BERITA TERKINI
Harga Energi Melonjak, Asia Tenggara Percepat Adopsi Mobil Listrik

Harga Energi Melonjak, Asia Tenggara Percepat Adopsi Mobil Listrik

Kenaikan harga energi global akibat perang Iran mendorong negara-negara Asia Tenggara mempercepat pengembangan kendaraan listrik. Lonjakan harga minyak membuat konsumen dan pemerintah di kawasan mulai mencari alternatif terhadap kendaraan berbahan bakar fosil.

Harga minyak mentah dunia dilaporkan melonjak sekitar 50 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari dan kembali menembus 100 dolar AS per barel. Kondisi tersebut ikut mendorong kenaikan biaya bahan bakar secara tajam.

Gangguan pasokan energi juga dikaitkan dengan situasi di Selat Hormuz, jalur vital yang sebelumnya mengalirkan sebagian besar minyak dan gas menuju Asia. Sejumlah negara di kawasan kini berupaya menghemat energi sekaligus memperkuat cadangan.

Di Indonesia, Presiden Prabowo Subianto pada Maret mengumumkan dorongan baru bagi kendaraan listrik, termasuk rencana memproduksi mobil listrik serta memperluas infrastruktur pengisian daya. “Impian transportasi listrik kembali mendapat perhatian,” kata Putra Adhiguna dari Energy Shift Institute, lembaga pemikir di Jakarta.

Perusahaan-perusahaan dari Cina disebut memainkan peran penting dalam rantai pasok energi bersih Indonesia. Mereka menandatangani proyek senilai lebih dari 54 miliar dolar AS dengan Perusahaan Listrik Negara pada 2023, serta menambah komitmen investasi sebesar 10 miliar dolar AS ketika Prabowo berkunjung ke Beijing pada 2024.

Lonjakan harga bahan bakar juga mulai mengubah perilaku konsumen di sejumlah negara Asia. Di Hanoi, Vietnam, pekerja kantor Do Thi Lan mengatakan keluarganya mempertimbangkan membeli kendaraan listrik karena biaya bensin terus meningkat. “Kami harus menghitung pengeluaran bulanan karena uang yang kami keluarkan untuk bensin terus naik,” ujarnya saat mengunjungi showroom kendaraan listrik VinFast.

Lan menyebut keluarganya masih menggunakan mobil bensin, namun mulai menilai kendaraan listrik sebagai pilihan yang lebih hemat. Hal serupa disampaikan Dao Thi Hue, seorang guru yang juga mengunjungi showroom tersebut. “Mengendarai kendaraan listrik jauh lebih baik dibandingkan kendaraan berbahan bakar minyak, baik dari sisi biaya maupun karena tidak perlu antre untuk mengisi bahan bakar,” katanya.

Perubahan preferensi konsumen tercermin pada penjualan kendaraan listrik di kawasan. Di Vietnam, VinFast melaporkan penjualan mobil mencapai 27.600 unit pada Maret, meningkat 127 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sekitar 40 persen mobil yang terjual di Vietnam pada 2025 disebut sudah merupakan kendaraan listrik, dan tren tersebut dinilai semakin cepat.

Pham Minh Hai, wakil kepala penjualan di showroom VinFast, mengatakan biaya bahan bakar kini menjadi faktor penting dalam keputusan pembelian. “Saat ini pelanggan sangat mempertimbangkan biaya bahan bakar ketika memilih mobil yang akan dibeli,” ujarnya. Ia menambahkan, penjualan showroom yang biasanya sekitar 200 hingga 250 mobil per bulan meningkat menjadi sekitar 300 hingga 400 unit pada Maret.

Menurut Pham Minh Hai, lebih dari 50 persen pelanggan bulan lalu beralih dari mobil berbahan bakar minyak ke kendaraan listrik. Jumlah pengunjung showroom juga meningkat sekitar 30 persen sehingga jam operasional harus diperpanjang.

Momentum ini turut dimanfaatkan produsen kendaraan listrik dari Cina. Pada ajang Bangkok Auto Show di Thailand awal bulan ini, BYD memperoleh pesanan terbanyak dibandingkan produsen lain, bahkan melampaui Toyota untuk pertama kalinya.

Seorang apoteker, Pleng Nawintham, mengatakan kenaikan harga bahan bakar menjadi alasan utama ia mempertimbangkan kendaraan listrik. “Saya berkendara hampir 100 kilometer setiap hari. Dengan situasi bahan bakar sekarang dan tidak tahu berapa lama akan berlangsung, itu menjadi faktor besar yang mendorong saya beralih,” ujarnya.

Di Filipina, manajer showroom BYD Mae Anne Clarisse Bacquiano mengatakan jumlah pengunjung dealer meningkat tajam. “Semua ini terjadi karena kenaikan harga bahan bakar,” katanya. Bacquiano menyebut seluruh stok kendaraan untuk bulan tersebut sudah dipesan pembeli.

Produsen Cina juga semakin agresif memperluas pasar internasional. BYD menyampaikan kepada analis bahwa ekspor kendaraan pada 2026 diperkirakan dapat melampaui 1,5 juta unit, lebih tinggi dari target sebelumnya sebesar 1,3 juta unit. Data China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan ekspor kendaraan listrik Cina meningkat dua kali lipat pada Maret dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di tingkat global, gangguan pasokan energi akibat perang Iran diperkirakan mempercepat peralihan dari bahan bakar fosil menuju energi bersih. Para analis menilai perubahan ini berpotensi menguntungkan industri energi bersih Cina, yang saat ini mendominasi rantai pasok teknologi energi bersih dunia.

Menurut International Energy Agency, Cina memproduksi lebih dari 70 persen kendaraan listrik global serta sekitar 85 persen sel baterai dunia. Ekspor teknologi energi bersih Cina—termasuk panel surya, baterai, dan kendaraan listrik—dilaporkan mencapai hampir 22,3 miliar dolar AS pada Desember, naik sekitar 47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Pendekatan Cina terhadap pengembangan sektor energi dan geopolitik sepenuhnya terbukti oleh konflik Iran,” kata Sam Reynolds dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis. Investor juga mulai bereaksi: pada Maret, saham perusahaan baterai CATL yang diperdagangkan di Hong Kong naik sekitar 24 persen, sementara saham produsen kendaraan listrik BYD meningkat sekitar 11 persen.

Amy Myers Jaffe dari Center for Global Affairs di New York University menilai dampak guncangan energi ini akan meluas ke persaingan industri otomotif global. “Guncangan energi ini akan membantu industri Cina secara global dan merugikan industri mobil Amerika secara global,” katanya.

Para analis menilai krisis energi yang dipicu konflik geopolitik dapat mempercepat permintaan global terhadap kendaraan listrik dan teknologi energi bersih, sektor yang saat ini didominasi oleh perusahaan-perusahaan dari Cina.