JAKARTA — Harga emas yang sebelumnya sempat mencatat tren kenaikan kini justru melemah tajam menjelang Idulfitri 2026. Pergerakan ini berlawanan dengan ekspektasi pasar yang sempat memprediksi harga emas berpeluang menembus Rp 3,5 juta per gram pada momen Lebaran tahun ini.
Dalam beberapa waktu terakhir, emas sempat menjadi salah satu instrumen investasi yang diminati di tengah ketidakpastian ekonomi global. Sepanjang 2025, harga emas bahkan tercatat melonjak hingga 64 persen, menjadikannya salah satu kinerja terbaik sejak 1979.
Namun dalam sepekan terakhir, harga emas mengalami koreksi tajam. Harga tercatat turun Rp 103.000 per gram, dari posisi tertinggi Rp 2.996.000 per gram pada Rabu (18/3) menjadi Rp 2.893.000 per gram pada Sabtu (21/3). Penurunan ini juga membuat harga emas kembali menjauh dari level psikologis Rp 3 juta per gram.
Pelemahan tersebut disebut dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Eskalasi konflik memicu dinamika pasar global yang tidak menentu, termasuk memengaruhi pergerakan harga komoditas seperti emas.
Dalam satu bulan terakhir, harga emas disebut mengalami fluktuasi tajam dan cenderung melemah, meski secara umum emas kerap dipandang sebagai aset safe haven. Kondisi ini menunjukkan sentimen geopolitik tidak selalu mendorong penguatan emas, terutama ketika investor memilih mengalihkan dana ke instrumen lain yang lebih likuid.
Para analis menilai volatilitas harga emas masih berpotensi berlanjut seiring perkembangan konflik global serta kebijakan ekonomi negara-negara besar. Investor pun diimbau tetap berhati-hati dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio untuk menghadapi ketidakpastian pasar.

