BERITA TERKINI
Harga Emas Menguat Ditopang Perlambatan Ekonomi AS, Inflasi, dan Ketegangan Global

Harga Emas Menguat Ditopang Perlambatan Ekonomi AS, Inflasi, dan Ketegangan Global

Harga emas melanjutkan tren penguatan pada perdagangan hari ini, didorong kombinasi faktor fundamental dan teknikal yang memperkuat daya tarik logam mulia sebagai aset safe-haven.

Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menjelaskan, kenaikan harga emas dipicu perlambatan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat serta meningkatnya tekanan inflasi yang tercermin pada data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), indikator inflasi yang menjadi rujukan Federal Reserve (The Fed).

Pada akhir pekan lalu, harga emas melonjak lebih dari satu persen dan diperdagangkan di kisaran USD5.065 per troy ounce setelah sempat menyentuh level terendah harian di USD4.981. Kenaikan tersebut menunjukkan minat investor terhadap emas tetap kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Dalam sesi perdagangan Asia pada Senin, 23 Februari 2026, harga emas kembali bergerak stabil dengan kecenderungan menguat dan mendekati level USD5.095.

Menurut Andy, penguatan ini terjadi ketika ketegangan perdagangan global meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memberlakukan tarif impor baru melalui kewenangan Undang-Undang Perdagangan 1974. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi perang dagang baru dan mendorong peralihan dana ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk emas.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran turut menopang harga emas. Meski demikian, peluang negosiasi antara kedua negara disebut sedikit membatasi potensi kenaikan yang lebih agresif.

Dari sisi fundamental, data terbaru menunjukkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat pada kuartal IV 2025 hanya 1,4 persen secara tahunan. Angka ini lebih rendah dibandingkan 4,4 persen pada kuartal sebelumnya dan berada di bawah ekspektasi pasar sebesar 3,0 persen.

Perlambatan tersebut mengindikasikan momentum ekonomi mulai melemah dan dapat meningkatkan ekspektasi bahwa The Fed akan lebih berhati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneter. Namun, di saat yang sama inflasi justru meningkat, dengan Core PCE naik menjadi 3,0 persen secara tahunan, melampaui target inflasi The Fed sebesar 2 persen.

Andy menilai kondisi ini menciptakan dilema bagi bank sentral. Inflasi yang masih tinggi berpotensi menunda pemangkasan suku bunga, sementara perlambatan ekonomi meningkatkan risiko perlunya stimulus tambahan pada periode mendatang.

Dari aspek teknikal, Andy menyebut pola candlestick saat ini menunjukkan dominasi tekanan beli. Indikator Moving Average juga mengindikasikan tren bullish masih solid, sementara pergerakan harga yang bertahan di atas level psikologis penting memperkuat sinyal bahwa emas masih berada dalam fase uptrend.

Untuk proyeksi pergerakan hari ini, Dupoin Futures memperkirakan bila momentum bullish berlanjut, harga emas berpeluang menguji level resistance di kisaran USD5.220 per troy ounce. Namun, investor juga diminta mewaspadai potensi koreksi teknikal apabila harga gagal mempertahankan momentum kenaikan. Dalam skenario tersebut, level support terdekat berada di sekitar USD5.004.

Secara keseluruhan, prospek harga emas dinilai masih cenderung positif seiring meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, dan dinamika kebijakan moneter The Fed. Pelaku pasar tetap disarankan mencermati perkembangan data ekonomi Amerika Serikat, termasuk inflasi dan kebijakan suku bunga, karena faktor-faktor tersebut dinilai menjadi penentu utama arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek hingga menengah.