BERITA TERKINI
Harga Emas Menguat di Tengah Ketidakpastian Geopolitik, Berpeluang Uji 5.225

Harga Emas Menguat di Tengah Ketidakpastian Geopolitik, Berpeluang Uji 5.225

Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan Kamis (5/3/2026) seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pada sesi Asia, harga emas (XAU/USD) bergerak di zona positif di sekitar level 5.145, melanjutkan kenaikan setelah sebelumnya naik lebih dari 1% pada sesi Amerika Utara. Dalam beberapa hari terakhir, pergerakan emas sempat tertekan oleh penguatan dolar AS.

Sentimen geopolitik menjadi penopang utama penguatan emas. Ketegangan di Timur Tengah dilaporkan meningkat setelah militer Israel melancarkan gelombang serangan baru yang menargetkan infrastruktur militer di Teheran, Iran. Perkembangan ini memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas, sehingga mendorong investor kembali mencari instrumen yang dinilai lebih aman seperti emas.

Dinamika politik di Amerika Serikat turut memengaruhi sentimen pasar. Partai Republik dilaporkan menolak resolusi yang bertujuan mewajibkan Presiden AS meminta persetujuan Kongres sebelum mengambil tindakan militer terhadap Iran di masa mendatang. Ketidakpastian juga bertambah setelah pernyataan pejabat militer AS yang menyebut serangan terhadap Iran dapat dilakukan secara bertahap, yang dinilai meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi konflik berkepanjangan.

Meski demikian, ada pula perkembangan yang memberi harapan meredanya ketegangan. Laporan media internasional menyebut intelijen Iran secara tidak langsung telah menghubungi badan intelijen AS untuk membahas kemungkinan mengakhiri konflik. Namun, pejabat di Washington dan Teheran masih menunjukkan sikap skeptis terhadap peluang de-eskalasi dalam waktu dekat. Kondisi ini membuat investor cenderung berhati-hati dan mempertahankan posisi pada aset safe-haven.

Dari sisi ekonomi, pasar turut mencermati data terbaru dari Amerika Serikat. Indeks Manajer Pembelian (PMI) sektor jasa versi ISM tercatat naik menjadi 56,1 pada Februari, dari 53,8 pada bulan sebelumnya, serta melampaui ekspektasi 53,5. Data tersebut menunjukkan aktivitas sektor jasa AS masih kuat dan dinilai dapat membuka ruang bagi bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Secara umum, suku bunga tinggi cenderung mendukung dolar AS dan dapat membatasi kenaikan harga emas. Namun pada perdagangan terbaru, Indeks Dolar AS (DXY) justru melemah sekitar 0,25% ke level 98,82. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bergerak stabil di kisaran 4,06%. Pelemahan dolar memberi ruang bagi emas untuk menjaga momentum penguatannya dalam jangka pendek.

Dari perspektif teknikal, analis Dupoin Futures Andy Nugraha menilai tren harga emas pada timeframe H1 masih cenderung bullish, meski mulai menunjukkan tanda pelemahan setelah reli sebelumnya. Berdasarkan kombinasi pola candlestick dan indikator Moving Average, harga emas dinilai masih berpeluang melanjutkan kenaikan, dengan risiko koreksi yang tetap perlu diwaspadai.

Andy menyebut, jika tekanan beli tetap dominan, emas berpotensi menguji area resistance di sekitar level 5.225. Namun apabila momentum mengendur dan tekanan jual meningkat, harga berisiko terkoreksi menuju area support terdekat di sekitar level 5.126.

Ke depan, pergerakan emas diperkirakan tetap fluktuatif. Investor menanti sejumlah data ekonomi AS, termasuk laporan klaim pengangguran mingguan, serta pernyataan pejabat Federal Reserve Michelle Bowman yang dijadwalkan berbicara dalam waktu dekat. Pernyataan tersebut berpotensi memberikan petunjuk tambahan terkait arah kebijakan moneter bank sentral AS.

Secara keseluruhan, peluang penguatan emas masih terbuka dalam jangka pendek, terutama jika ketegangan geopolitik bertahan dan dolar AS tidak kembali menguat signifikan. Namun pelaku pasar tetap perlu mencermati perkembangan data ekonomi dan sentimen global yang dapat memicu volatilitas.