Ketidakpastian geopolitik global akibat perang dan krisis politik turut memengaruhi pergerakan harga emas. Di tengah situasi tersebut, emas masih dipandang sebagai instrumen investasi safe haven yang dinilai relatif aman dan stabil untuk jangka panjang.
Fenomena itu terlihat di Kota Malang. Sejumlah warga memanfaatkan penurunan harga emas sebagai momentum untuk mulai berinvestasi, salah satunya Regina, pelanggan toko emas di kawasan Pasar Besar.
Regina mengatakan ia menggunakan sebagian uang Tunjangan Hari Raya (THR) milik anaknya untuk membeli emas karena harga saat ini dinilai lebih terjangkau dibanding sebelumnya. “Tujuannya pertama investasi dan mengajari anak menabung. Jadi gak harus dapat uang sekarang langsung dapet. Karena investasi di emas antam cenderung meningkat. Ini saya beli pas harga turun, tapi mengingat krisis geopolitik saat ini sepetinya emas susah untuk turun. Bahkan untuk tabungan kuliah anak juga pakai investasi emas,” ujarnya.
Menurut Regina, emas memiliki nilai yang relatif stabil serta dinilai mampu melindungi aset dari inflasi maupun dampak krisis global. Pertimbangan itu membuatnya semakin yakin menjadikan emas sebagai pilihan investasi jangka panjang.
Tren serupa juga disampaikan pramuniaga toko emas Bulan Purnama, Faisal. Ia menyebut minat masyarakat terhadap emas masih tinggi, terutama sebagai tabungan masa depan yang dianggap lebih aman. “Untuk saat ini harga antam di website kami sekitar Rp 3.154.000 per gramnya untuk cetakan tahun 2026. Harganya sedang turun dan saatnya untuk beli emas,” kata Faisal.
Faisal menjelaskan, kondisi geopolitik global ikut memengaruhi fluktuasi harga emas. Ia menyebut harga emas Antam sebelumnya sempat berada di kisaran Rp 3,5 juta per gram, namun kini turun menjadi sekitar Rp 3,145 juta per gram.
Penurunan harga tersebut dimanfaatkan sebagian masyarakat untuk membeli emas sebagai langkah mengamankan nilai aset. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, emas tetap menjadi salah satu pilihan investasi yang diminati.

