Harga emas global melonjak tajam menjelang akhir pekan, di tengah aksi beli investor setelah penurunan pada awal pekan serta perhatian pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Emas kembali menjadi sorotan karena kerap dipandang sebagai aset aman (safe haven) saat ketidakpastian ekonomi dan politik meningkat.
Pada Jumat, 27 Maret 2026, harga emas dunia naik lebih dari 3%. Mengutip CNBC, harga emas spot menguat 3,6% menjadi USD 4.536,29 per ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas untuk pengiriman April juga naik 3,6% ke level USD 4.533,70.
Senior Market RJO Futures, Daniel Pavilonis, mengatakan penurunan harga sebelumnya telah membuka peluang beli. “Penurunan harga baru-baru ini menciptakan peluang yang sangat bagus karena pasar mengalami penurunan. Harga turun di bawah rata-rata pergerakan 200 hari. Ini adalah waktu yang luar biasa untuk membeli emas,” ujarnya dikutip dari CNBC.
Sebelumnya, emas sempat menyentuh titik terendah dalam empat bulan pada Senin pekan ini di USD 4.097,99. Pavilonis menambahkan ia memperkirakan kenaikan bertahap dalam beberapa pekan ke depan, dengan perhatian pasar turut tertuju pada perkembangan situasi Iran.
Di sisi lain, harga minyak bertahan di atas USD 110 per barel. Kondisi ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat waktu bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, menyusul penolakan Teheran terhadap proposal 15 poin dari AS untuk mengakhiri pertempuran.
Konflik yang memasuki minggu keempat telah menyebar ke kawasan Timur Tengah dan memicu dampak ekonomi yang lebih luas. Lonjakan harga energi dan pupuk menambah kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya ikut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter.
Kenaikan inflasi dapat menggeser pandangan Federal Reserve mengenai arah suku bunga. Secara umum, suku bunga yang lebih tinggi cenderung menekan emas karena meningkatkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, menurut FedWatch Tool dari CME Group, para trader kini sepenuhnya memperhitungkan kemungkinan penurunan suku bunga AS pada 2026, berbeda dari prediksi sebelumnya yang memperkirakan dua kali penurunan sebelum perang.
Sejalan dengan perubahan sentimen tersebut, Commerzbank menaikkan target harga emas akhir tahun menjadi USD 5.000 per ounce dari sebelumnya USD 4.900. Bank itu menilai penurunan harga emas belakangan ini kemungkinan tidak akan berlanjut. Commerzbank juga memprediksi perang Iran berakhir pada musim semi, yang dapat meredam ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Bank tersebut memperkirakan Federal Reserve akan memangkas suku bunga sekitar 75 basis poin pada pertengahan tahun depan.
Selain faktor konflik dan inflasi, sejumlah pendorong lain juga kerap dikaitkan dengan penguatan emas. Ketidakpastian ekonomi dan politik global membuat investor mencari perlindungan nilai. Pelemahan dolar AS dapat meningkatkan daya tarik emas karena membuatnya lebih terjangkau bagi investor internasional, sementara meredanya reli dolar pada Maret 2026 turut mendukung penguatan harga.
Emas juga sering dipilih sebagai lindung nilai ketika inflasi tinggi karena penurunan daya beli mata uang. Di sisi kebijakan moneter, suku bunga yang lebih rendah dapat membuat instrumen berbunga menjadi kurang menarik sehingga sebagian investor beralih ke emas. Pada Januari 2026, Federal Reserve menahan suku bunga setelah pemangkasan sepanjang 2025, yang disebut turut melemahkan dolar dan meningkatkan daya tarik emas.
Di luar dinamika makro, faktor permintaan dan pasokan juga berperan. Permintaan untuk industri, perhiasan, serta tradisi di negara seperti Tiongkok dan India dapat mendorong harga, sementara pasokan yang terbatas akibat cadangan menipis dan biaya penambangan yang tinggi dapat memperkuat tren kenaikan. Pembelian emas oleh bank sentral untuk diversifikasi cadangan dan perlindungan aset, serta sentimen pasar jangka pendek, juga dapat memengaruhi pergerakan harga.
Dengan lonjakan terbaru ini, pergerakan emas kembali menjadi barometer penting bagi investor untuk membaca kombinasi risiko geopolitik, arah inflasi, dan ekspektasi kebijakan suku bunga di pasar global.

