Harga emas (XAU/USD) naik dan menyentuh level tertinggi dalam sepekan pada paruh pertama perdagangan Eropa, Selasa. Kenaikan ini memperpanjang penguatan sebelumnya, seiring meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah berbagai risiko geopolitik dan melemahnya Dolar AS.
Sejumlah perkembangan geopolitik disebut menjaga sentimen pasar tetap waspada. Di antaranya, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka kemungkinan serangan militer kedua di Venezuela, ketegangan politik antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, kerusuhan di Iran, serta perang Rusia-Ukraina yang belum menunjukkan kemajuan berarti menuju kesepakatan damai. Kondisi tersebut dinilai menopang minat terhadap emas sebagai aset lindung nilai.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pasar terhadap sikap dovish Federal Reserve turut mendukung penguatan emas. Pelaku pasar memperkirakan bank sentral AS masih berpeluang memangkas suku bunga dua kali lagi tahun ini. Taruhan tersebut menguat setelah rilis data PMI AS yang beragam pada Senin.
S&P Global melaporkan PMI Manufaktur AS bertahan di 51,8, mengindikasikan ekspansi berlanjut. Namun, PMI Manufaktur versi Institute for Supply Management (ISM) turun menjadi 47,9 pada Desember dari 48,2 pada November, menandakan kontraksi aktivitas bisnis masih terjadi. Kombinasi data ini tidak banyak mengubah ekspektasi pelonggaran kebijakan, sehingga menekan Dolar AS dari posisi tertinggi hampir empat pekan yang tercatat sehari sebelumnya.
Selain itu, kekhawatiran pasar terhadap independensi The Fed di bawah pemerintahan Trump turut disebut berkontribusi melemahkan Dolar AS. Kondisi ini memberikan ruang bagi penguatan emas, yang tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini menanti sejumlah indikator makroekonomi AS pada pekan ini untuk memperjelas arah kebijakan suku bunga. Namun, perhatian utama diperkirakan tertuju pada laporan Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang dijadwalkan rilis pada Jumat, karena data tersebut berpotensi menggerakkan Dolar AS dalam jangka pendek dan memberi arah baru bagi pergerakan harga emas.
Dari sisi teknikal, pergerakan emas melewati Simple Moving Average (SMA) 100 jam dan keluarnya harga dari zona konsolidasi di kisaran 4.445–4.450 dipandang sebagai sinyal yang memperkuat posisi pembeli. Indikator MACD pada grafik 1 jam disebut telah berbalik positif, sementara RSI berada di sekitar 68, mendekati area jenuh beli. Jika RSI menembus 70, peluang penguatan dinilai kian terbuka, sedangkan kegagalan menembus level tersebut berpotensi memicu fase konsolidasi. Dalam skenario koreksi, SMA 100 jam di 4.373,28 disebut dapat menjadi area penopang dinamis.

