BERITA TERKINI
Harga Emas Berpeluang Menguat, Analis Bidik Resistance USD4.660 hingga USD4.740

Harga Emas Berpeluang Menguat, Analis Bidik Resistance USD4.660 hingga USD4.740

Jakarta — Harga emas dunia pada perdagangan Rabu, 6 Mei 2026, dinilai berpeluang melanjutkan penguatan. Prospek tersebut didorong kombinasi sinyal teknikal yang menguat serta dukungan faktor fundamental global.

Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menyampaikan pergerakan XAU/USD pada timeframe harian mulai menunjukkan indikasi pembalikan arah setelah sebelumnya berada dalam tekanan. Dari sisi teknikal, emas disebut berhasil membentuk swing low yang valid pada area support kuat di level USD4.523. Bertahannya harga di atas level itu dipandang sebagai sinyal awal pergeseran pasar dari fase bearish menuju bullish.

Geraldo juga menyoroti terbentuknya pola candlestick bullish marubozu yang dinilai mencerminkan dominasi pembeli dalam satu periode perdagangan, dengan penutupan harga mendekati level tertinggi. Menurutnya, kondisi tersebut memperlihatkan tekanan beli mulai mendominasi dan membuka peluang kelanjutan kenaikan.

Selain itu, penguatan sinyal teknikal disebut diperkuat oleh kemunculan pola double bottom, yang kerap dipandang sebagai pola pembalikan tren. Indikator stochastic juga dilaporkan bergerak mengarah ke atas setelah keluar dari area oversold atau jenuh jual, yang dinilai menjadi konfirmasi tambahan bahwa momentum penurunan melemah.

Dengan rangkaian sinyal tersebut, Dupoin Futures memproyeksikan harga emas berpotensi menguji resistance terdekat di level USD4.660. Jika momentum bullish tetap terjaga, peluang penguatan hingga USD4.740 disebut semakin terbuka. Meski demikian, pelaku pasar diminta tetap mencermati pergerakan di area resistance karena kenaikan jangka pendek masih memerlukan konfirmasi lanjutan agar berlanjut secara konsisten.

Dari sisi fundamental, potensi penguatan emas turut ditopang meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven. Ketidakpastian ekonomi global, termasuk kekhawatiran perlambatan pertumbuhan, ketegangan geopolitik, serta volatilitas pasar keuangan, disebut mendorong emas kembali menjadi pilihan sebagai instrumen lindung nilai.

Faktor lainnya adalah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve yang dinilai mulai cenderung lebih longgar. Perkiraan penurunan suku bunga atau pelonggaran kebijakan berpotensi menekan dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, emas umumnya diuntungkan ketika suku bunga riil menurun karena selisih imbal hasil dengan instrumen lain menjadi lebih kecil.

Geraldo juga menyinggung pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang cenderung stabil atau menurun. Ketika yield tidak meningkat, biaya peluang memegang emas menjadi lebih rendah, yang pada akhirnya dapat mendorong permintaan.

Secara keseluruhan, kombinasi sinyal teknikal dan dukungan fundamental dinilai memberikan prospek positif bagi emas dalam jangka menengah hingga panjang, selama harga mampu bertahan di atas area support dan momentum beli tetap terjaga. Namun, pelaku pasar tetap disarankan mencermati perkembangan kondisi global dan data ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan harga.