Konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai memicu dampak ekonomi global, dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menjadi salah satu efek yang paling cepat dirasakan masyarakat. Sejak serangan terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, sedikitnya 85 negara melaporkan kenaikan harga bensin.
Di AS, harga rata-rata bensin reguler yang pada Februari berada di 2,94 dolar AS per galon naik menjadi 3,58 dolar AS per galon, atau meningkat sekitar 20%. Meski harga BBM di AS ditentukan masing-masing negara bagian, sejumlah wilayah kini mencatat harga di atas 4 dolar AS per galon. Di California, harga bensin dilaporkan telah melampaui 5 dolar AS per galon, level tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Berdasarkan analisis data Global Petrol Prices per Selasa (11/3/2026), kenaikan harga bensin tercatat terjadi di puluhan negara sejak konflik pecah. Sejumlah negara mengalami lonjakan tajam dalam waktu singkat.
Berikut 10 negara dengan kenaikan harga bensin tertinggi sejak perang dimulai:
Vietnam: 0,75 dolar AS per liter (23 Februari) menjadi 1,13 dolar AS per liter (9 Maret), naik 49,73%.
Laos: 1,34 menjadi 1,78 dolar AS per liter, naik 32,94%.
Kamboja: 1,11 menjadi 1,32 dolar AS per liter, naik 19,03%.
Australia: 1,11 menjadi 1,31 dolar AS per liter, naik 18,23%.
Amerika Serikat: 0,87 menjadi 1,01 dolar AS per liter, naik 16,55%.
Jerman: 2,08 menjadi 2,36 dolar AS per liter, naik 13,3%.
Seychelles: 1,34 menjadi 1,52 dolar AS per liter, naik 13,04%.
Guatemala: 1,04 menjadi 1,17 dolar AS per liter, naik 12,9%.
Lebanon: 0,91 menjadi 1,02 dolar AS per liter, naik 12,25%.
Nigeria: 0,59 menjadi 0,66 dolar AS per liter, naik 11,78%.
Vietnam menjadi negara dengan lonjakan tertinggi, hampir 50% dalam sekitar dua pekan. Namun, angka ini disebut belum tentu mencerminkan kondisi sepenuhnya karena beberapa negara biasanya menyesuaikan harga BBM pada akhir bulan, sehingga kenaikan lanjutan masih mungkin terjadi pada April.
Sejumlah laporan menyebut negara-negara Asia termasuk yang paling rentan terhadap lonjakan harga energi akibat konflik, karena ketergantungan pada pasokan minyak dan gas melalui Selat Hormuz. Jalur ini merupakan penghubung vital dari Teluk Persia ke Teluk Oman dan disebut sebagai satu-satunya jalur utama ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah menuju pasar global. Sejak perang pecah, jalur tersebut praktis terganggu.
Di Asia Timur, ketergantungan pada pasokan energi dari kawasan Teluk disebut sangat tinggi. Jepang mengimpor sekitar 95% minyaknya dari wilayah tersebut, sementara Korea Selatan sekitar 70%. Untuk mengantisipasi dampak, pada 8 Maret pemerintah Jepang memerintahkan fasilitas penyimpanan minyak nasional bersiap melepas cadangan strategis bila diperlukan. Sehari kemudian, Korea Selatan menetapkan batas harga maksimum untuk bensin dan solar—kebijakan yang disebut baru pertama kali diterapkan dalam 30 tahun terakhir.
Dampak konflik juga disebut lebih terasa di Asia Selatan, termasuk Pakistan dan Bangladesh, yang memiliki cadangan energi lebih kecil dan kondisi keuangan lebih rapuh. Pemerintah Bangladesh menutup seluruh universitas negeri dan swasta untuk menghemat energi. Di Pakistan, pemerintah menerapkan kebijakan penghematan seperti pekan kerja empat hari untuk kantor pemerintahan, penutupan sekolah, serta kebijakan 50% kerja dari rumah bagi pegawai.
Kekhawatiran turut muncul di negara maju. Para menteri keuangan negara G7 menggelar pertemuan darurat untuk membahas kenaikan harga energi global. Presiden Perancis Emmanuel Macron mengusulkan pelepasan 20–30% cadangan minyak strategis untuk meredam tekanan harga bagi konsumen.
Lonjakan harga minyak biasanya diikuti kenaikan harga pangan karena energi memengaruhi berbagai mata rantai pasok, mulai dari produksi pupuk hingga distribusi bahan pangan. Biaya transportasi dan pengiriman juga ikut meningkat. Ekonom David McWilliams menyebut transportasi sebagai “urat nadi ekonomi global”, karena berkaitan langsung dengan logistik dan rantai pasok yang digerakkan oleh energi.
Para ekonom juga mulai mengkhawatirkan potensi stagflasi, yaitu inflasi tinggi yang terjadi bersamaan dengan meningkatnya pengangguran. Dalam sejarah, lonjakan besar harga minyak kerap diikuti krisis ekonomi global, seperti pada 1973, 1978, dan 2008. Di negara berpendapatan rendah, dampak dapat lebih berat karena porsi pendapatan rumah tangga untuk makanan lebih besar. Jika harga minyak terus naik, kondisi tersebut berpotensi memicu krisis pangan di sejumlah wilayah.
Dampak kenaikan harga energi tidak terbatas pada BBM. Minyak dan gas juga menjadi bahan baku bagi berbagai produk sehari-hari, termasuk plastik untuk botol air minum, kemasan makanan, casing ponsel, hingga alat medis seperti jarum suntik. Turunan minyak juga digunakan untuk serat sintetis seperti polyester, nylon, dan acrylic, serta berbagai produk kosmetik dan kebutuhan rumah tangga seperti deterjen, sabun cuci piring, dan cat. Selain itu, gas alam merupakan bahan utama pembuatan pupuk yang penting bagi produksi pangan global.
Dengan demikian, lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik dinilai berpotensi memengaruhi hampir seluruh sektor ekonomi dunia, dari biaya transportasi hingga harga barang konsumsi dan pangan.

