Harga minyak dunia melemah tajam sementara pasar saham global menguat setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat mengirimkan kerangka kerja perdamaian 15 poin kepada Iran. Sentimen ini memicu harapan gencatan senjata di Timur Tengah dan meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Minyak mentah Brent turun sekitar 4% pada dini hari Rabu dan sempat jatuh di bawah level US$100 per barel. Pelemahan terjadi ketika pelaku pasar merespons prospek meredanya tekanan pasokan akibat konflik di kawasan tersebut.
Optimisme juga ditopang laporan bahwa Iran mengizinkan kapal-kapal “non-musuh” melintas dengan aman di Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital bagi distribusi energi dunia.
Bursa Asia hingga Wall Street kompak menguat
Penguatan saham terjadi di berbagai kawasan. Di Asia, indeks Nikkei Jepang ditutup melonjak 2,9%, sementara Hang Seng Hong Kong naik sedikit di atas 1%.
Di Eropa, indeks FTSE 100 London menguat 1,4%, Dax Jerman naik 1,3%, dan Cac 40 Prancis bertambah sekitar 1,3%.
Di Amerika Serikat, reli berlanjut dengan Nasdaq naik 0,7%, sedangkan S&P 500 dan Dow Jones masing-masing menguat sekitar 0,6%.
Meski demikian, pasar masih dibayangi ketidakpastian. Harga minyak kembali berfluktuasi di sekitar US$100 per barel setelah Teheran membantah adanya pembicaraan resmi sejak awal perang.
Amelie Derambure, manajer multi-aset senior di Amundi, menilai suasana pasar cenderung positif. “Pasar memperdagangkan gagasan bahwa pembicaraan damai atau gencatan senjata mungkin akan segera terjadi,” ujarnya, dikutip dari The Guardian, Kamis (26/3/2026).
Selat Hormuz dan risiko pasokan energi
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur sempit ini dilalui sekitar 20% pasokan energi dunia. Penutupan de facto Selat Hormuz oleh Iran sebelumnya hampir menghentikan pengiriman minyak dan gas global, dan gangguan di wilayah tersebut disebut sebagai salah satu krisis pasokan terbesar dalam sejarah modern oleh Badan Energi Internasional.
Data S&P Global menunjukkan hanya empat kapal yang tercatat melintas pada Selasa. Angka tersebut kurang dari 3% dari rata-rata historis 138 kapal per hari sebelum perang pecah.
Lebih dari 30 negara—termasuk Uni Emirat Arab, Inggris, Prancis, Jerman, Kanada, dan Australia—telah menandatangani pernyataan bersama untuk melakukan “upaya yang tepat” guna melindungi jalur tersebut.
Iran kemudian memberi sinyal pelonggaran dengan mengizinkan kapal “non-musuh” melintas, yakni kapal yang tidak mendukung tindakan agresi terhadap Iran.
Ancaman pada pupuk dan ketahanan pangan
Selain energi, Selat Hormuz juga menjadi jalur strategis distribusi pupuk. Sekitar sepertiga pupuk dunia melewati perairan tersebut.
Wakil Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jean-Marie Paugam, memperingatkan bahwa gangguan pasokan pupuk dapat berdampak serius terhadap ketahanan pangan global.
“Jika tidak ada lagi pupuk, akan ada dampak pada kuantitas dan harga. Efeknya akan semakin parah pada tahun berikutnya: panen menyusut dan harga naik,” ujarnya.
Emas terkoreksi, pasar tetap volatil
Volatilitas pasar global turut memengaruhi harga emas. Logam mulia yang biasanya dipandang sebagai aset lindung nilai sempat mencetak rekor historis di atas US$5.000 per ons pada Januari.
Namun sejak konflik Iran pecah, harga emas terkoreksi sekitar 13% ke kisaran US$4.550 per ons. Pergerakan ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas emas sebagai “safe haven” dalam dinamika krisis saat ini.
Peringatan risiko minyak US$150 dan resesi
Secara terpisah, CEO BlackRock Larry Fink memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat mendorong harga minyak melonjak hingga US$150 per barel. BlackRock mengelola aset senilai US$14 triliun (£10,4 triliun).
Menurut Fink, apabila Iran tetap menjadi ancaman dan harga energi bertahan tinggi, dampaknya dapat signifikan bagi ekonomi global, termasuk meningkatnya risiko resesi.
Pasar masih rentan
Meski euforia jangka pendek mengangkat bursa saham dan menekan harga minyak, ketidakpastian tetap membayangi. Selat Hormuz masih menjadi titik krusial, dan setiap perkembangan diplomatik dapat dengan cepat membalikkan arah pasar.
Untuk saat ini, investor global menimbang harapan damai dengan risiko eskalasi lanjutan—dua kekuatan yang terus mendorong volatilitas tinggi di pasar keuangan dunia.

