BERITA TERKINI
Halalbihalal BI DIY dan ISEI DIY Tekankan Kolaborasi Lintas Generasi di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Halalbihalal BI DIY dan ISEI DIY Tekankan Kolaborasi Lintas Generasi di Tengah Tekanan Ekonomi Global

Bank Indonesia (BI) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY memanfaatkan momentum Syawal untuk memperkuat jejaring dan refleksi kebangsaan melalui kegiatan halalbihalal. Acara bertema “Rumaketing Silaturahmi, Hamemayu Hayuning Sesami” itu digelar pada Jumat (27/3) di Gedung Heritage BI DIY, dengan penekanan pada pentingnya kolaborasi lintas generasi menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks.

Ketua ISEI DIY Didi Achjari menilai dinamika geopolitik global yang tidak menentu menuntut organisasi bersikap lebih progresif dan adaptif. Ia juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam berbagai agenda ISEI DIY. Didi berharap seluruh aktivitas organisasi dapat memberi dampak nyata bagi masyarakat, khususnya di DIY.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI DIY Sri Darmadi Sudibyo menyampaikan bahwa tradisi halalbihalal tidak semata seremoni tahunan, melainkan ruang untuk memperkuat nilai kebesaran hati dan rekonsiliasi sosial. Menurutnya, kompleksitas persoalan bangsa hanya dapat diurai melalui kerja kolektif. Ia menekankan kolaborasi lintas generasi di ISEI DIY sebagai modal sosial yang perlu terus dirawat agar kontribusi kepada masyarakat semakin nyata.

Dalam ceramahnya, Ketua Dewan Pakar ISEI Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. memaparkan kondisi ekonomi nasional yang dinilainya menghadapi tekanan berlapis. Ia menggambarkan situasi ekonomi Indonesia sebagai “sudah jatuh tertimpa tangga”, ketika ketidakpastian geopolitik global memperparah persoalan domestik, seperti tingginya angka pengangguran, kemiskinan, serta problem struktural yang belum terselesaikan.

Prof. Edy juga menyinggung peringatan dari berbagai lembaga internasional terkait prospek ekonomi Indonesia yang dinilai kian tertekan akibat konflik global yang belum menemukan titik terang. Menurutnya, situasi tersebut menuntut kewaspadaan sekaligus kerja kolektif seluruh elemen bangsa agar tidak terjebak dalam krisis berkepanjangan.

Lebih jauh, Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) itu mengaitkan persoalan ekonomi dengan dimensi moral dan spiritual. Mengutip pemikiran Al-Ghazali, ia mengingatkan bahwa manusia kerap terjebak pada hal-hal duniawi, sementara nilai-nilai mendasar seperti amanah, pengendalian nafsu, dan amal saleh menjadi penentu kualitas kehidupan. Ia menekankan bahwa kemampuan untuk saling memaafkan merupakan aspek penting dalam kehidupan sosial.

Guru Besar Ilmu Ekonomi tersebut menjelaskan bahwa silaturahmi pada dasarnya merupakan upaya merajut kasih sayang antarmanusia yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat. Tradisi Syawalan dan halalbihalal, menurutnya, bukan sekadar budaya, melainkan manifestasi hubungan antarmanusia yang perlu dijaga.

Ia juga mengutip ajaran Rasulullah SAW tentang manusia yang “bangkrut”, yakni mereka yang membawa banyak pahala namun kehilangan semuanya karena persoalan dengan sesama. Dalam konteks itu, hubungan sosial yang buruk dapat menghapus nilai-nilai kebaikan yang telah dibangun.

Menurut Prof. Edy, halalbihalal menjadi sarana untuk menjaga tradisi sekaligus membersihkan diri, memperbaiki relasi, dan memperkuat fondasi sosial. Ia menegaskan bahwa tanpa harmoni sosial, pembangunan ekonomi tidak akan berjalan optimal.

Melalui kegiatan ini, BI DIY dan ISEI DIY menegaskan pentingnya penguatan jejaring sosial, kolaborasi lintas generasi, serta nilai kebersamaan dan spiritualitas di tengah tekanan ekonomi global, sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat.