Konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel dinilai berpotensi menimbulkan dampak besar terhadap stabilitas ekonomi global, termasuk bagi Indonesia. Penilaian itu disampaikan Guru Besar Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Surakarta (FEB UMS), Prof. Muhammad Sholahuddin.
Sholahuddin menyoroti implikasi strategis konflik di Timur Tengah karena berkaitan langsung dengan jalur distribusi energi dunia, khususnya Selat Hormuz. Menurutnya, jalur ini merupakan titik krusial dalam perdagangan minyak global.
“Konflik di kawasan Timur Tengah, terutama yang mengancam di Selat Hormuz, berdampak besar karena hampir 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur tersebut,” kata Sholahuddin, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan Selat Hormuz berada dalam pengaruh Iran. Ketika situasi geopolitik memanas, potensi pembatasan jalur pelayaran dapat mengganggu distribusi minyak dunia dan memicu lonjakan harga energi secara global.
Dampak gejolak tersebut, lanjut Sholahuddin, juga berpeluang dirasakan Indonesia. Ia menyebut sekitar separuh kebutuhan minyak nasional masih dipenuhi melalui impor, sehingga Indonesia dinilai rentan terhadap perubahan harga energi di pasar internasional.
“Ketika pasokan dari Timur Tengah terganggu, harga minyak akan naik. Kenaikan harga minyak ini tidak hanya berdampak pada sektor energi, tetapi juga mempengaruhi distribusi barang, transportasi, hingga biaya logistik,” ujarnya.
Ia menambahkan, kenaikan harga energi biasanya diikuti meningkatnya harga berbagai kebutuhan lain, mulai dari pupuk, produk elektronik, hingga barang impor yang bergantung pada rantai distribusi global.
Menurut Sholahuddin, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi pihak yang paling merasakan dampaknya. Ia menilai peningkatan biaya hidup akan berimbas pada harga barang kebutuhan sehari-hari.
“Gangguan energi global akan meningkatkan biaya logistik dan premi asuransi risiko perang. Dampaknya merembet ke pasar keuangan dan harga barang yang pada akhirnya paling terasa bagi masyarakat kelas bawah,” katanya.
Meski demikian, Sholahuddin menilai situasi ini dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Salah satu langkah yang ia tekankan adalah mengurangi ketergantungan terhadap produk impor dan meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri.
Ia juga menyoroti pentingnya pengembangan energi alternatif yang sesuai dengan potensi geografis Indonesia, seperti energi surya. Dengan kondisi wilayah tropis yang memiliki paparan sinar matahari melimpah, pemanfaatan tenaga surya dinilai dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbasis minyak.
“Indonesia seharusnya mulai mengembangkan energi alternatif, seperti pembangkit listrik tenaga surya. Dengan begitu, ketergantungan terhadap energi berbasis minyak dapat berkurang,” ujarnya.
Selain itu, ia menekankan peran strategis perguruan tinggi dalam menghadapi dinamika global. Menurutnya, akademisi memiliki tanggung jawab menghadirkan inovasi melalui penelitian dan hilirisasi hasil riset agar dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat dan industri.
“Perguruan tinggi memiliki banyak hasil penelitian dan inovasi. Jika dihilirisasi dengan baik melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, media, dan investor, maka hal itu dapat memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia,” kata Sholahuddin.
Terkait kekhawatiran munculnya perang dunia ketiga, ia menilai kemungkinan tersebut relatif kecil selama konflik masih terbatas pada blok negara tertentu. Namun, ia mengingatkan risiko tetap perlu diwaspadai apabila konflik meluas dan melibatkan lebih banyak negara.
“Kemungkinan perang dunia ketiga masih kecil selama konflik tidak meluas. Masyarakat tidak perlu terlalu khawatir secara berlebihan,” ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Sholahuddin mengajak masyarakat tetap tenang dan optimistis dengan memperkuat ekonomi domestik serta meningkatkan kemandirian bangsa. “Yang terpenting adalah bagaimana Indonesia memperkuat kemandirian ekonomi, mengurangi ketergantungan impor, serta memanfaatkan inovasi dari perguruan tinggi untuk kemajuan bangsa,” pungkasnya.

