Di tengah luasnya Samudra Pasifik, terdapat krisis lingkungan berskala global yang kerap luput dari pandangan. Fenomena itu dikenal sebagai Great Pacific Garbage Patch, kawasan akumulasi sampah laut terbesar di dunia yang menjadi simbol nyata dampak aktivitas manusia terhadap lautan.
Great Pacific Garbage Patch sering dijuluki “pulau sampah”, namun istilah ini dinilai menyesatkan. Kawasan tersebut bukan daratan padat yang bisa dipijak, melainkan hamparan partikel plastik, jaring, botol, dan fragmen limbah yang mengambang serta terperangkap dalam pusaran arus laut selama puluhan tahun.
Fenomena ini terbentuk di wilayah North Pacific Gyre, sistem arus raksasa yang berputar searah jarum jam di Samudra Pasifik Utara. Gyre ini merupakan kombinasi sejumlah arus besar, termasuk Kuroshio, California Current, North Equatorial Current, dan North Pacific Current.
Secara alami, gyre berperan dalam distribusi air laut. Namun dalam era modern, sistem ini berubah menjadi “perangkap” sampah yang terbawa dari berbagai wilayah, mulai dari pesisir Asia Timur, Amerika Utara, hingga kawasan tropis. Material yang masuk ke pusaran ini cenderung sulit keluar, sehingga sampah terus menumpuk dan menciptakan konsentrasi limbah tinggi di area tertentu.
Luas kawasan Great Pacific Garbage Patch diperkirakan mencapai sekitar 1,6 juta kilometer persegi—lebih besar dari gabungan beberapa negara di Eropa. Sementara itu, diperkirakan antara 1,15 hingga 2,41 juta ton plastik masuk ke laut setiap tahunnya.
Berbeda dari bayangan tentang tumpukan sampah yang terlihat jelas, sebagian besar material di kawasan ini justru berukuran sangat kecil. Plastik yang terpapar sinar matahari dan gelombang mengalami proses photodegradation, terpecah menjadi partikel yang lebih kecil tanpa benar-benar hilang.
Partikel tersebut dikenal sebagai mikroplastik, yakni serpihan plastik berukuran kurang dari lima milimeter. Dalam beberapa kasus, ditemukan pula partikel pada skala nano yang lebih kecil dan kian sulit dideteksi. Karena itu, kawasan ini kerap digambarkan sebagai “sup plastik” yang bercampur dengan plankton, organisme laut berukuran kecil, serta bahan kimia terlarut.
Kepadatan partikel di dalamnya bervariasi, namun pada titik tertentu dapat mencapai ratusan ribu potongan per kilometer persegi. Studi juga menunjukkan sekitar setengah dari total massa sampah di kawasan ini berasal dari alat tangkap ikan yang hilang atau dibuang, seperti jaring dan tali, menyoroti kontribusi industri perikanan selain limbah rumah tangga.
Dampak Great Pacific Garbage Patch tidak hanya soal pemandangan laut yang tercemar, tetapi juga mengancam ekosistem dari organisme mikroskopis hingga predator puncak. Banyak hewan laut tidak mampu membedakan plastik dari makanan alaminya. Penyu, misalnya, kerap memakan kantong plastik yang menyerupai ubur-ubur. Burung laut seperti albatros juga dilaporkan memberi makan anaknya dengan potongan plastik, yang dapat berujung pada kematian akibat kelaparan atau keracunan.