BERITA TERKINI
Goldman Sachs: Harga Minyak Bisa Tembus 100 Dolar AS dan Pangkas Pertumbuhan Global 0,4 Poin Persentase

Goldman Sachs: Harga Minyak Bisa Tembus 100 Dolar AS dan Pangkas Pertumbuhan Global 0,4 Poin Persentase

Lonjakan harga minyak hingga 100 dolar Amerika Serikat (AS) per barel dinilai berpotensi menekan kinerja ekonomi dunia. Analis Goldman Sachs memperkirakan kenaikan setinggi itu dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,4 poin persentase.

Dengan asumsi kurs 1 dolar AS setara Rp 16.925, harga 100 dolar AS per barel setara sekitar Rp 1.692.500. Goldman Sachs menilai skenario lonjakan tersebut bisa terjadi apabila konflik yang meluas di Iran mengganggu aliran minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah.

Dalam proyeksi dasar, Goldman memperkirakan harga minyak hanya naik tipis sebelum turun secara bertahap. Rata-rata harga diproyeksikan mencapai 76 dolar AS per barel pada kuartal I 2026 atau sekitar Rp 1.286.300, kemudian turun menjadi 65 dolar AS per barel pada kuartal IV 2026 atau sekitar Rp 1.100.125.

Sementara itu, dalam skenario optimistis, harga minyak diperkirakan sempat menyentuh 100 dolar AS per barel sebelum kembali normal sepanjang 2026.

Goldman menilai dampak terhadap ekonomi global cenderung terbatas apabila kenaikan harga tetap moderat. Dalam skenario dasar, hambatan terhadap pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global diperkirakan sekitar 0,1 poin persentase, sedangkan inflasi utama global diproyeksikan naik 0,2 poin persentase.

Namun, jika harga minyak melonjak hingga 100 dolar AS per barel, inflasi utama global berpotensi meningkat hingga 0,7 poin persentase.

Goldman juga mencatat bank sentral umumnya tidak langsung bereaksi terhadap guncangan harga minyak. Respons kebijakan moneter lebih sering muncul ketika inflasi sudah tinggi atau ketika kenaikan harga energi berlangsung besar dan lama.

Dalam skenario dasar, prospek kebijakan moneter global dinilai tidak banyak berubah, dengan arah suku bunga tetap mengikuti tren yang telah berjalan. Situasi dapat berbeda apabila harga minyak menembus 100 dolar AS per barel atau ketika kenaikan biaya energi diteruskan secara luas ke harga konsumen. Dalam kondisi itu, bank sentral berpotensi menunda pemangkasan suku bunga, terutama di pasar negara berkembang.

Harga minyak yang tinggi juga berisiko menekan pendapatan riil rumah tangga dan belanja konsumen. Di sisi lain, negara pengekspor minyak seperti Kanada dan sejumlah negara di Amerika Latin berpeluang menikmati kenaikan penerimaan dari ekspor energi.

Goldman menilai pergerakan harga energi dalam beberapa bulan ke depan akan berpengaruh terhadap inflasi, daya beli, serta arah kebijakan suku bunga global.