BERITA TERKINI
GKB-NU Bahas Pergeseran Geopolitik Menuju Multipolar, Soroti Peluang Indonesia di Global South

GKB-NU Bahas Pergeseran Geopolitik Menuju Multipolar, Soroti Peluang Indonesia di Global South

Pergeseran tatanan geopolitik global menjadi perhatian dalam diskusi yang digelar Forum Arus Dunia bersama Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama (GKB-NU) di Kemang, Jakarta Selatan, Minggu (8/3/2026). Forum tersebut menyoroti dinamika perubahan sistem dunia yang dinilai kian bergerak menuju konfigurasi multipolar.

Ketua Umum GKB-NU Hery Haryanto Azumi, yang menjadi narasumber, menyampaikan bahwa dominasi Amerika Serikat dalam sistem global dinilai tidak lagi berada pada fase puncaknya. Menurutnya, perubahan itu terjadi seiring kemunculan berbagai kekuatan baru di tingkat internasional.

“Hegemoni Amerika tidak sepenuhnya hilang, namun sedang mengalami penyesuaian dalam sistem yang semakin multipolar, di mana sejumlah kekuatan global lain mulai memainkan peran yang lebih besar,” ujar Hery, dikutip Senin (9/3/2026).

Hery menjelaskan, pengaruh Amerika Serikat mencapai puncaknya setelah Perang Dunia II. Saat itu, banyak negara besar mengalami kerusakan ekonomi dan industri akibat perang, sementara Amerika relatif tetap memiliki kapasitas ekonomi dan industri yang kuat. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadikan Amerika aktor utama dalam pembentukan tatanan dunia pascaperang melalui berbagai inisiatif kerja sama internasional.

Salah satu contoh yang disinggung adalah Marshall Plan, program rekonstruksi ekonomi untuk memulihkan perekonomian negara-negara Eropa Barat. Hery juga menyebut kebijakan serupa diterapkan di sejumlah kawasan Asia Timur, termasuk Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan.

Dalam pemaparannya, Hery membagi perkembangan geopolitik global sejak akhir Perang Dunia II ke dalam beberapa fase. Fase pertama berlangsung pada periode 1945–1970 ketika Amerika Serikat berada pada posisi dominan dalam sistem global. Fase kedua terjadi pada 1970–2001, ketika pengaruh tersebut mulai menghadapi berbagai tantangan dan perubahan. Sementara fase ketiga berlangsung sejak awal 2000-an hingga saat ini, ketika dinamika geopolitik dinilai semakin kompleks dengan munculnya kekuatan baru serta perubahan keseimbangan internasional.

Diskusi itu juga menyinggung perubahan peta kekuatan global setelah peristiwa 11 September 2001. Pada periode tersebut, Amerika Serikat meluncurkan kebijakan Global War on Terrorism (GWOT) yang berdampak pada dinamika keamanan internasional di berbagai kawasan.

Di sisi lain, perkembangan ekonomi global turut membuka ruang bagi kemunculan kekuatan ekonomi baru. Hery menyoroti China sebagai salah satu negara yang secara bertahap memperluas pengaruh ekonomi dan perdagangannya di tingkat internasional. Ia menyebut momentum penting terjadi saat China bergabung dengan World Trade Organization (WTO) pada 11 Desember 2001, yang kemudian mempercepat integrasi negara itu dalam sistem perdagangan global.

Hery juga merujuk buku The Hundred-Year Marathon karya Michael Pillsbury yang membahas strategi jangka panjang China dalam meningkatkan posisinya secara global. Namun, ia menilai perubahan tersebut tidak otomatis menghadirkan satu kekuatan baru yang menggantikan dominasi lama, melainkan menciptakan fase transisi menuju sistem global yang lebih kompleks.

“Naik turunnya kekuatan besar merupakan bagian dari dinamika sejarah. Tidak ada hegemoni yang berlangsung secara permanen,” ujarnya.

Dalam konteks transisi tersebut, Hery menilai Indonesia memiliki peluang strategis untuk memainkan peran lebih aktif sebagai negara middle power dalam percaturan global. Menurutnya, negara-negara yang tergabung dalam kelompok Global South seperti Brasil, India, Afrika Selatan, dan Indonesia memiliki posisi penting dalam membangun keseimbangan baru dalam sistem internasional.

Ia juga menyinggung posisi Indonesia di berbagai forum internasional serta peluang memperkuat kerja sama antarnegara berkembang. Hery menilai Indonesia memiliki modal historis dalam membangun solidaritas Global South, merujuk pada peran Indonesia dalam Konferensi Asia Afrika dan Gerakan Non-Blok.

“Indonesia memiliki pengalaman historis dalam mendorong kerja sama negara-negara berkembang. Peran tersebut dapat terus diperkuat dalam menghadapi dinamika global saat ini,” kata Hery.

Di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global, Hery menekankan pentingnya membangun sistem internasional yang lebih seimbang dan inklusif. Menurutnya, peran negara-negara berkembang perlu diarahkan untuk memperkuat kerja sama global, mendorong stabilitas internasional, serta membangun tatanan dunia yang lebih adil.

“Upaya memperkuat peran Global South bukan untuk menciptakan rivalitas baru, tetapi untuk membangun keseimbangan dan memperkuat kerja sama internasional yang lebih setara,” pungkasnya.

Diskusi tersebut turut menyoroti pentingnya peran Indonesia dalam menjaga stabilitas global sekaligus memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam sistem internasional yang terus berubah.