Mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) Ginandjar Kartasasmita mengungkapkan bahwa kunci utama dalam menyelamatkan nilai tukar rupiah pada krisis ekonomi 1997–1998 adalah pemulihan kepercayaan pasar dan masyarakat terhadap pemerintah.
Pernyataan itu disampaikan Ginandjar dalam acara peluncuran buku “Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa, Perjalanan, Pergulatan Hidup dan Pemikiran” di Jakarta, Kamis (9/4/2026). “Jawaban yang paling utama adalah mengembalikan kepercayaan,” ujar Ginandjar.
Ia menjelaskan, krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997–1998 tidak semata-mata dipicu oleh gejolak moneter, melainkan berakar dari runtuhnya kepercayaan pasar terhadap pemerintah. Situasi tersebut memicu ketidakstabilan ekonomi yang kemudian berujung pada lonjakan inflasi dan pelemahan tajam nilai tukar rupiah.
Pada puncak krisis, nilai tukar rupiah sempat merosot hingga kisaran Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan besarnya tekanan terhadap perekonomian nasional saat itu.
Ginandjar, yang menjabat sebagai Menko Ekuin pada periode 1998–1999, menggambarkan periode tersebut sebagai masa penuh ketidakpastian. Pemerintah, menurutnya, harus bergerak cepat untuk mencegah pelemahan rupiah yang lebih dalam.
Salah satu langkah strategis yang ditempuh adalah menggandeng lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank untuk memperoleh dukungan devisa. “Kita tentu dibantu oleh IMF dan Bank Dunia. Karena pada waktu itu devisa kita sudah habis dan terus keluar,” katanya.
Ia menilai dukungan tersebut menjadi penyangga penting untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak terus terpuruk, sekaligus membuka jalan bagi pemulihan secara bertahap.
Meski demikian, Ginandjar menekankan bahwa faktor eksternal saja tidak cukup. Menurutnya, keberhasilan pemulihan tetap sangat bergantung pada kuatnya koordinasi kebijakan ekonomi di dalam negeri, terutama antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
“Koordinasi yang kuat antarotoritas ekonomi sangat penting untuk mengembalikan kepercayaan terhadap rupiah,” ujarnya. Ia menambahkan, pengalaman krisis 1998 menunjukkan stabilitas ekonomi nasional sangat bergantung pada kepercayaan; tanpa itu, berbagai kebijakan ekonomi akan sulit memberikan dampak yang optimal.