Situasi di Selat Hormuz yang membatasi lalu lintas perairan di tengah perang Amerika Serikat-Israel versus Republik Islam Iran dinilai berpotensi menimbulkan dampak luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Selat tersebut merupakan salah satu jalur utama distribusi energi dunia.
Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra, Azis Subekti, mengatakan sekitar seperlima minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ia menilai gangguan di jalur itu, bahkan hanya dalam hitungan minggu, dapat langsung memukul ekonomi global.
Azis, yang juga anggota Komisi II DPR, menjelaskan bahwa gangguan di Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga energi, meningkatkan inflasi, hingga mengguncang stabilitas politik di berbagai negara. Menurutnya, dampak tersebut juga dapat dirasakan masyarakat secara langsung, terutama melalui penurunan daya beli.
Ia menilai respons negara-negara besar terhadap konflik dipengaruhi kepentingan masing-masing. Amerika Serikat disebut berupaya menjaga stabilitas jalur perdagangan global, sementara China fokus pada keamanan pasokan energi untuk kebutuhan industrinya. Di sisi lain, Rusia dinilai melihat krisis ini sebagai peluang strategis.
“Dalam logika geopolitik, setiap krisis yang menyibukkan Amerika di Timur Tengah bisa menjadi keuntungan bagi Rusia,” ujar Azis pada Selasa (24/3/2026).
Azis juga menyinggung posisi negara-negara Teluk seperti Arab Saudi yang menghadapi dilema. Di satu sisi, Iran dipandang sebagai rival, namun konflik terbuka dinilai berisiko mengganggu stabilitas ekonomi kawasan.
Menurut Azis, Iran memiliki strategi memperluas konflik sebagai bentuk perlawanan. Sementara Israel disebut memandang ancaman Iran sebagai sesuatu yang harus segera ditekan, termasuk melalui opsi militer.
Ia menyederhanakan peta kepentingan global ke dalam tiga kelompok besar: kelompok ofensif, kelompok perlawanan, dan kelompok penyeimbang. Ketiganya, kata dia, sama-sama menaruh perhatian pada Selat Hormuz sebagai titik krusial.
Azis memperkirakan konflik tidak akan berkembang menjadi perang besar dalam waktu dekat, namun berpotensi meluas secara regional. Ia menilai kejutan terbesar justru bisa datang dari sisi ekonomi, terutama bila distribusi energi terganggu.
“Kejutan terbesar justru bisa datang dari sisi ekonomi, terutama jika distribusi energi terganggu. Stabilitas jalur energi menjadi faktor kunci yang menentukan arah ekonomi global ke depan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Pemerintah Indonesia disebut telah mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi dampak konflik geopolitik di Asia Barat akibat potensi lumpuhnya jalur perdagangan minyak dunia di Selat Hormuz. Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan jajarannya, terutama yang tergabung dalam Satuan Tugas Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi (Satgas EBTKE), untuk mempercepat transisi dari energi fosil menuju energi baru terbarukan, khususnya yang bersumber dari tenaga surya.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang juga Ketua Satgas EBTKE mengatakan pemerintah perlu menyiapkan alternatif energi apabila kondisi di Selat Hormuz tidak membaik. “Harus ada alternatif-alternatif apa yang akan dipakai ketika Selat Hormuz kondisinya masih seperti ini,” kata Bahlil di Istana, Jakarta, Kamis (12/3/2026).

