Peramal tren sekaligus penerbit Trends Journal, Gerald Celente, menilai pasar global tengah menunjukkan perpecahan yang tidak lazim di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik. Dalam wawancara dengan pembawa acara Kitco News, Jeremy Szafron, Celente mengatakan kombinasi gangguan aliran energi, risiko perang, dan pergerakan harga komoditas yang tidak sejalan mengindikasikan adanya tekanan yang lebih dalam ketimbang volatilitas pasar biasa.
Celente menyoroti fluktuasi harga minyak yang bergerak di sekitar level tiga digit saat rute pengiriman utama berada di bawah tekanan. Namun, pada saat yang sama, harga emas dan perak justru turun dalam beberapa sesi terakhir. Menurutnya, perbedaan arah ini bukan tanda penyesuaian pasar yang sehat, melainkan cerminan sistem yang kesulitan menyeimbangkan kekuatan yang saling bertentangan—terkait perang, inflasi, dan intervensi kebijakan.
Ia juga menolak anggapan bahwa penguatan dolar AS menjadi alasan utama pelemahan harga logam mulia. Celente menyebut pergerakan tersebut sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menahan sinyal yang dapat mengungkap tekanan ekonomi. Ia berpendapat harga emas semestinya naik sejalan dengan biaya energi dan tekanan inflasi, seraya menyebut kondisi pasar saat ini sebagai “permainan yang dimanipulasi”.
Celente menambahkan, perkembangan geopolitik terkait ketegangan dengan Iran dalam kondisi normal seharusnya mendorong kenaikan harga komoditas secara lebih merata. Namun, respons pasar yang tidak seragam ia kaitkan dengan narasi serta sinyal kebijakan yang memengaruhi perilaku investor, selain faktor fundamental.
Untuk memperkuat keraguannya, Celente merujuk pada kasus-kasus historis manipulasi pasar, termasuk tindakan penegakan hukum di masa lalu terhadap lembaga keuangan besar yang terkait perdagangan logam mulia. Menurutnya, preseden tersebut menjadi alasan untuk mempertanyakan apakah harga saat ini benar-benar mencerminkan mekanisme pasokan dan permintaan yang alami.
Di luar komoditas, Celente memperingatkan bahwa latar ekonomi yang lebih luas memburuk. Ia menilai biaya energi yang meningkat, tingkat utang yang tinggi, serta melemahnya kondisi konsumen terjadi bersamaan dengan meluasnya komitmen militer pemerintah. “Ini adalah masa paling menakutkan dalam hidup saya,” kata Celente, menggambarkan situasi ketika kerentanan ekonomi dan eskalasi geopolitik saling memperkuat.
Menurut Celente, konflik kerap muncul ketika sistem ekonomi berada di bawah tekanan. Ia menarik paralel dengan periode-periode dalam sejarah Amerika Serikat, ketika tekanan ekonomi disebutnya mendahului konflik besar, dan menilai pola serupa berpotensi terbentuk kembali.
Ia juga menyoroti persoalan struktural ekonomi AS, termasuk ketimpangan yang melebar dan daya beli yang menurun. Celente mengutip data yang menunjukkan sebagian kecil warga AS menyumbang porsi belanja yang tidak proporsional, sementara generasi muda menghadapi mobilitas ekonomi yang terbatas.
Selain itu, ia menyinggung melemahnya properti komersial, ditandai tingkat kekosongan yang tinggi serta kekhawatiran gagal bayar pinjaman. Menurutnya, tekanan ini sudah terbentuk sebelum ketegangan geopolitik saat ini meningkat.
Di sektor teknologi, Celente memperingatkan investasi kecerdasan buatan (AI) berisiko memasuki fase kelebihan. Ia menilai derasnya aliran modal ke perusahaan teknologi besar, disertai kenaikan biaya dan imbal hasil yang belum pasti, dapat memicu penarikan modal seperti pada siklus spekulatif sebelumnya. Celente juga menyebut persaingan global—terutama dari Asia—berpotensi mengubah lanskap AI seiring waktu, termasuk melalui biaya pengembangan yang lebih rendah dan ketersediaan talenta yang lebih luas di luar AS.
Meski memandang prospek ke depan suram, Celente menekankan pentingnya kesadaran publik dan analisis independen. Ia mendorong masyarakat mencari beragam sumber informasi dan tidak bergantung pada satu narasi. “Tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk gerakan perdamaian besar-besaran,” ujarnya, seraya berpendapat tekanan publik dapat memengaruhi arah ketegangan geopolitik.
Secara umum, pesan Celente berpusat pada kesiapsiagaan dan kewaspadaan. Ia menyarankan individu memperkuat ketahanan fisik, emosional, dan finansial, sambil memantau sinyal makroekonomi yang menurutnya tidak selalu tercermin sepenuhnya dalam data pasar utama.

