Gencatan senjata selama dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandatangani Presiden AS Donald Trump dinilai belum serta-merta meredakan tekanan yang dihadapi industri penerbangan global. Sejumlah eksekutif menilai, dampak gangguan pasokan energi dan operasional penerbangan masih akan terasa meski tensi geopolitik mereda.
Direktur Jenderal International Air Transport Association (IATA) Willie Walsh memperingatkan pemulihan pasokan bahan bakar pesawat (jet fuel) berpotensi memakan waktu berbulan-bulan. Menurutnya, sekalipun Iran membuka kembali Selat Hormuz, gangguan kapasitas kilang minyak di Timur Tengah membuat pemulihan pasokan tidak bisa terjadi cepat.
“Jika selat itu dibuka dan tetap terbuka, saya pikir akan tetap memerlukan beberapa bulan untuk pasokan kembali normal mengingat gangguan kapasitas kilang di Timur Tengah,” kata Walsh.
Kabar gencatan senjata sempat menurunkan harga minyak mentah global hingga di bawah US$100 per barel dan mendorong penguatan saham maskapai. Namun, Walsh menekankan biaya jet fuel berpeluang tetap tinggi karena dampak konflik terhadap kilang minyak.
Di sisi korporasi, Delta Air Lines memperkirakan laba kuartal kedua akan lebih rendah dari perkiraan. Maskapai itu juga menyatakan akan memangkas kapasitas penerbangan untuk menutup tambahan biaya bahan bakar yang diperkirakan mencapai US$2 miliar.
Jet fuel umumnya menjadi komponen biaya terbesar kedua setelah tenaga kerja, sekitar 27% dari total biaya operasional maskapai. Sejak konflik Iran, harga jet fuel global dilaporkan meningkat lebih dari dua kali lipat, jauh melampaui kenaikan sekitar 50% pada harga minyak mentah sebelum gencatan senjata.
Lonjakan biaya tersebut berimbas pada meningkatnya biaya operasional, terganggunya jadwal penerbangan, pemangkasan rute, serta tertekannya kemampuan dan kesediaan penumpang untuk membayar tiket.
Meski begitu, analis Panmure Liberum menilai gencatan senjata memberi “peluang membeli untuk maskapai berkualitas”. Sejalan dengan itu, saham maskapai global mencatat reli, antara lain Qantas Airways yang naik lebih dari 9%, Air New Zealand lebih dari 4%, Cathay Pacific Hong Kong 5%, dan IndiGo India 8%.
Di Eropa, saham TUI naik lebih dari 12%, Wizz Air 10%, Air France-KLM sekitar 14%, dan Lufthansa 11%. Saham maskapai AS juga menguat dalam perdagangan pra-pasar.
Namun, pemulihan sektor pariwisata di Timur Tengah dinilai masih membutuhkan waktu. Sektor ini diperkirakan bernilai sekitar US$367 miliar. Kapal pesiar TUI, “Mein Schiff 4” dan “Mein Schiff 5”, yang tertahan di Abu Dhabi dan Doha sejak awal konflik, diperkirakan memerlukan setidaknya empat minggu untuk kembali beroperasi, bergantung pada kondisi rute, cuaca, dan operasional.
Ekonom Oxford Economics Aaron Goldring menambahkan, persepsi keamanan akan pulih secara bertahap. Ia memperkirakan dampak sentimen pasca-gencatan senjata bisa berlangsung hingga tujuh bulan. “Pemulihan keselamatan dirasakan secara perlahan,” kata Goldring.
Secara keseluruhan, gencatan senjata memberikan dorongan jangka pendek bagi pasar saham maskapai. Namun, pemulihan penuh industri penerbangan dan pariwisata global diperkirakan tetap memerlukan waktu, seiring perlunya penanganan gangguan pasokan energi dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.