Pergeseran kekuatan ekonomi global kian terlihat dalam daftar orang terkaya dunia. Dominasi taipan generasi lama mulai berbagi ruang dengan wajah-wajah Gen Z—kelompok kelahiran 1997–2012—yang sebagian sudah menguasai aset bernilai puluhan hingga ratusan triliun rupiah dan berpengaruh lintas sektor.
Fenomena ini tidak berdiri pada satu pola tunggal. Ada dua jalur besar yang membentuk kekayaan para miliarder muda tersebut: pewarisan dari konglomerasi mapan serta pertumbuhan bisnis teknologi yang berkembang cepat. Data Forbes yang dikutip SahamTalk menempatkan sejumlah nama sebagai Gen Z terkaya dunia, sekaligus memperlihatkan peta arah ekonomi global hari ini.
Warisan lama, kendali baru
Di jajaran teratas, Zahan Mistry dan Firoz Mistry menjadi contoh kuat bagaimana industri tradisional masih memegang peran besar. Keduanya disebut sebagai ahli waris Tata Group, konglomerasi India dengan bisnis yang mencakup baja, otomotif, teknologi, hingga energi. Portofolio besar, termasuk Jaguar Land Rover, membuat nilai kekayaan masing-masing diperkirakan sekitar Rp 79 triliun.
Pola serupa terlihat pada Clemente Del Vecchio dan Luca Del Vecchio, pewaris EssilorLuxottica. Industri kacamata yang terlihat sederhana ternyata bertumpu pada rantai bisnis global, mulai dari manufaktur dan lisensi merek hingga distribusi lintas benua. Kekayaan masing-masing berada di kisaran Rp 76 triliun.
Dari Jerman, Kevin David Lehmann menegaskan bahwa ritel kebutuhan sehari-hari dapat menjadi sumber kekayaan besar. Sebagai pemegang saham utama dm-drogerie markt, pemuda 22 tahun itu disebut mengantongi sekitar Rp 54,3 triliun dari sektor yang cenderung stabil dan berskala masif.
Teknologi sebagai aset baru bernilai strategis
Selain warisan, jalur teknologi juga melahirkan lompatan kekayaan. Alexandr Wang membangun perusahaannya, Scale AI, yang bergerak sebagai penyedia data pelatihan kecerdasan buatan. Dengan klien yang mencakup perusahaan teknologi besar hingga militer Amerika Serikat, Wang pada usia 27 tahun disebut telah memiliki kekayaan sekitar Rp 31 triliun. Kisah ini menyoroti posisi kecerdasan buatan sebagai sektor yang semakin menentukan arah ekonomi.
Nama lain, Remi Dassault, bergerak melalui Dassault Group di Prancis—industri strategis yang mencakup pesawat tempur Rafale hingga perangkat lunak desain. Nilai kekayaannya ditaksir Rp 35,7 triliun, mencerminkan keterkaitan sektor pertahanan dan teknologi dengan kepentingan global.
“Mainan” digital yang berubah menjadi mesin uang
Dari Asia Timur, Kim Jung-youn dan Kim Jung-min tercatat sebagai pewaris Nexon, perusahaan gim online di balik MapleStory dan KartRider. Industri gim yang kerap dipandang sebelah mata justru menjadi sumber pendapatan besar, dengan kekayaan masing-masing sekitar Rp 26,4 triliun.
Sementara itu dari Amerika Latin, Livia Voigt disebut memiliki saham di WEG, produsen motor listrik dan transformator global. Kepemilikan tersebut menghasilkan kekayaan sekitar Rp 20,2 triliun, menunjukkan besarnya peran sektor energi dan elektrifikasi dalam ekonomi modern.
Daftar Gen Z terkaya dunia memperlihatkan kontras yang tajam: sebagian membangun kekayaan dari ide, data, dan teknologi berisiko tinggi, sementara sebagian lain lahir di dalam struktur bisnis besar yang telah teruji puluhan tahun. Namun keduanya sama-sama menggambarkan satu hal—pusat gravitasi ekonomi bergerak, dan wajah baru mulai mengambil tempat di panggung kekayaan global.

