BERITA TERKINI
Gen Z di Era Hybrid Warfare: Terpapar Konflik Global, Diuji Literasi Digital dan Ketahanan Mental

Gen Z di Era Hybrid Warfare: Terpapar Konflik Global, Diuji Literasi Digital dan Ketahanan Mental

Wajah perang kian berubah. Konflik tidak selalu hadir dalam bentuk dentuman meriam atau pergerakan tank, melainkan menjelma menjadi serangan informasi, tekanan ekonomi, sabotase digital, hingga perebutan pengaruh budaya. Di tengah pergeseran itu, Generasi Z tumbuh sebagai kelompok yang paling terhubung dengan teknologi sekaligus paling sering terpapar dinamika global, meski hidup di situasi nasional yang relatif damai.

Dunia memang tidak sedang berada dalam perang fisik terbuka secara menyeluruh, tetapi konflik bersenjata terjadi di berbagai kawasan. Laporan Global Trends: Forced Displacement in 2023 dari United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) tahun 2024 mencatat lebih dari 110 juta orang terpaksa mengungsi akibat konflik dan kekerasan. Bagi banyak anak muda Indonesia, gambaran rapuhnya stabilitas global itu hadir setiap hari melalui layar ponsel.

Dalam konteks inilah konsep hybrid warfare menjadi relevan. Perang tidak selalu diumumkan secara resmi, tetapi dapat dijalankan lewat disinformasi, propaganda digital, serangan siber, dan infiltrasi budaya. Joseph S. Nye Jr. dalam buku The Future of Power (2011) menjelaskan bagaimana kekuatan lunak mampu memengaruhi negara lain tanpa senjata. Pada masa kini, media sosial menjadi salah satu arena utama perebutan pengaruh, dan Gen Z berada di garis depan arena tersebut.

Bagi Gen Z, gawai bukan sekadar perangkat hiburan. Ia menjadi ruang diskusi, ruang kerja, ruang belajar, sekaligus medan pertarungan opini. Algoritma menentukan informasi apa yang muncul dan dipercaya, sementara disinformasi kerap menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Dalam situasi konflik global, manipulasi informasi dapat memecah belah masyarakat tanpa satu peluru pun dilepaskan.

Meski demikian, Gen Z tidak semata hadir sebagai korban pasif. Survei Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey (2025) menyebutkan bahwa pada 2030 Gen Z diproyeksikan mendominasi 74 persen tenaga kerja global. Sekitar 70 persen dari mereka rutin mempelajari keterampilan baru setiap minggu, yang menunjukkan daya adaptasi tinggi di tengah ketidakpastian. Dalam situasi yang berubah cepat, kompetensi dipandang sebagai bentuk pertahanan yang konkret.

Di ranah kerja, kecerdasan buatan juga telah menjadi bagian dari keseharian. Data yang sama mencatat sekitar 57 persen Gen Z menggunakan AI dalam berbagai intensitas. Adaptasi ini dapat membuat kerja lebih efisien dan produktif, tetapi ketergantungan pada hasil instan juga berpotensi mengikis daya tahan menghadapi proses panjang.

Di tengah derasnya arus digital, tantangan besar justru terjadi di ruang batin. Hybrid warfare tidak hanya menyasar infrastruktur, tetapi juga psikologi. Tekanan ekonomi, ketidakpastian karier, dan paparan krisis global dapat memicu kecemasan kolektif. Laporan World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All dari World Health Organization (WHO) tahun 2022 menyebut satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan mental, dengan generasi muda termasuk kelompok rentan karena berada dalam fase transisi hidup.

Ketahanan mental pun dipandang sebagai fondasi penting di era konflik global. Tanpa stabilitas psikologis, literasi digital dinilai tidak cukup; tanpa kesehatan mental, kemajuan teknologi bisa berubah menjadi sumber tekanan. Di sisi lain, Gen Z disebut relatif lebih terbuka membicarakan stres dan mencari bantuan profesional, yang menjadi modal penting untuk menghadapi tekanan global yang kompleks.

Sejarah Indonesia juga menunjukkan pemuda kerap menjadi penggerak perubahan. Dalam Imagined Communities (1983), Benedict Anderson menulis bahwa bangsa dibangun melalui imajinasi kolektif yang diperjuangkan bersama. Jika dahulu imajinasi itu dipertahankan lewat perlawanan fisik terhadap penjajah, kini ia diuji oleh arus globalisasi dan penetrasi budaya digital. Tantangannya berbeda, tetapi esensinya tetap terkait dengan ketahanan identitas dan kebersamaan.

Di tengah konflik global, Gen Z juga menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap isu lingkungan dan keadilan sosial. Dua pertiga dari mereka mengaku peduli pada perubahan iklim, sementara sekitar 65 persen bersedia membayar lebih untuk produk berkelanjutan. Pilihan konsumsi ini diposisikan sebagai bentuk sikap terhadap praktik ekonomi yang dinilai merusak bumi, sekaligus terkait dengan pandangan bahwa krisis iklim dapat memperparah konflik global pada masa depan.

Pertanyaan tentang kemungkinan perang dunia ketiga kerap muncul, namun kesiapan pada era hybrid warfare tidak semata dibayangkan sebagai wajib militer atau latihan fisik. Literasi informasi disebut sebagai garis pertahanan pertama: kemampuan memilah fakta dari propaganda menjadi krusial karena masyarakat yang terpecah oleh hoaks lebih mudah dilemahkan.

Selain itu, kemandirian ekonomi dan fleksibilitas keterampilan menjadi faktor penting. Gen Z yang terbiasa belajar mandiri dan mengembangkan pekerjaan sampingan dinilai memiliki peluang lebih besar bertahan dalam krisis. Ketika rantai pasok global terganggu, inovasi lokal dapat menjadi penyangga; ketika pasar kerja berubah drastis, kemampuan beradaptasi menentukan keberlanjutan hidup.

Solidaritas sosial juga tidak bisa diabaikan. Konflik global kerap memicu polarisasi di dalam negeri, sementara propaganda digital dapat memperuncing perbedaan pandangan politik maupun identitas. Dalam situasi seperti itu, ketahanan mental dan kedewasaan sosial diuji, termasuk kemampuan mengelola perbedaan tanpa terjebak kebencian.

Nasionalisme di era ini pun digambarkan tidak identik dengan retorika keras, melainkan hadir melalui kompetensi, integritas, dan kontribusi nyata. Prestasi di bidang sains, teknologi, seni, dan olahraga disebut sebagai benteng pertahanan kultural, sementara pelestarian budaya lokal menjadi cara menjaga identitas di tengah arus global. Dalam kerangka hybrid warfare, identitas kerap dipandang sebagai salah satu titik lemah yang dapat disasar.

Pada akhirnya, Gen Z menghadapi “perang” yang lebih senyap namun kompleks. Mereka tidak diminta berlari ke medan tempur, melainkan dituntut berpikir kritis, berempati, dan tangguh secara mental. Di era ketika informasi melimpah, kebijaksanaan harus diperjuangkan. Ketahanan mental, dalam konteks ini, tidak lagi diposisikan sebagai isu personal semata, melainkan bagian dari ketahanan strategis.

Terlepas dari apakah perang besar terjadi atau tidak, upaya membangun literasi, kompetensi, dan kesehatan mental tetap relevan. Jika konflik global membesar, generasi yang cerdas secara digital dan kuat secara psikologis dipandang dapat menjadi pilar ketahanan bangsa—ruang di mana Gen Z menemukan perannya di tengah perubahan zaman.