Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Meski Indonesia berjarak lebih dari tujuh ribu kilometer dari Timur Tengah, dampak konflik di kawasan tersebut berpotensi merambat ke dalam negeri melalui jalur energi, perdagangan, dan pasar keuangan seiring keterkaitan ekonomi global yang kian erat.
Salah satu saluran penularan tercepat adalah pergerakan harga minyak dunia. Timur Tengah memegang peran penting dalam pasokan energi global, termasuk Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia menurut EIA (2023). Setiap eskalasi konflik di kawasan itu kerap memicu kekhawatiran gangguan pasokan, yang kemudian direspons pasar energi dengan kenaikan harga.
International Monetary Fund (IMF) dalam World Economic Outlook menilai guncangan harga minyak menjadi pendorong utama volatilitas inflasi global, terutama bagi negara berkembang dan negara yang masih bergantung pada impor energi. Dalam laporan tersebut, IMF menekankan bahwa “oil price shocks remain a key driver of global inflation volatility, particularly in emerging and developing economies.”
Indonesia termasuk negara yang masih mengandalkan impor minyak untuk memenuhi kebutuhan domestik. Dewan Pengarah Pusat Studi Energi (PSE) UGM, Prof. Deendarlianto, menyatakan produksi minyak mentah nasional belum mencukupi konsumsi dalam negeri. “Produksi minyak mentah kita tidak sampai 700 ribu barel per hari, sementara kebutuhan nasional sekitar 1,5 juta barel per hari. Artinya, kita masih harus mengimpor minyak mentah dalam jumlah banyak untuk menutup kebutuhan tersebut,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).
Kenaikan harga minyak dunia menempatkan pemerintah pada dilema kebijakan. Mempertahankan subsidi energi dapat membantu menahan kenaikan harga di tingkat konsumen, tetapi berisiko memperbesar beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah menyatakan masih berupaya menjaga stabilitas harga. “Tidak (BBM tidak naik). Jadi kita absorb (serap) tekanan terhadap perekonomian di APBN. Kalau kita lepaskan, nanti kayak negara-negara lain pada panik orang-orang,” ujar Purbaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (19/3/2026), saat merespons langkah menjaga kesehatan fiskal Indonesia.
Di sisi lain, jika harga bahan bakar disesuaikan mengikuti harga pasar global, tekanan inflasi rumah tangga dapat meningkat. Dalam kedua skenario tersebut, masyarakat tetap berhadapan dengan konsekuensi ekonomi, baik melalui potensi kenaikan harga langsung maupun dampak fiskal jangka panjang.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan komponen energi dan transportasi memiliki kontribusi signifikan terhadap inflasi nasional. Pengalaman sebelumnya juga memperlihatkan kenaikan harga bahan bakar kerap diikuti peningkatan biaya distribusi dan harga pangan. Efek berantai ini membuat inflasi energi menjadi salah satu tekanan yang paling cepat dirasakan masyarakat, terutama melalui kenaikan tarif transportasi, biaya logistik, serta harga kebutuhan pokok yang berpengaruh pada daya beli rumah tangga.
Dengan demikian, gejolak geopolitik seperti ketegangan Iran-AS tidak semata menjadi isu luar negeri. Bagi Indonesia sebagai pengimpor energi, perkembangan tersebut dapat memicu tekanan ekonomi domestik melalui jalur inflasi energi. Dalam jangka panjang, penguatan ketahanan energi—melalui diversifikasi sumber energi dan peningkatan produksi domestik—dinilai menjadi langkah strategis untuk mengurangi kerentanan terhadap guncangan global.

