BERITA TERKINI
Gedung Putih: Trump Siap Luncurkan Serangan Besar Jika Diplomasi dengan Iran Gagal, Teheran Merespons

Gedung Putih: Trump Siap Luncurkan Serangan Besar Jika Diplomasi dengan Iran Gagal, Teheran Merespons

Gedung Putih menyatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump siap melancarkan serangan besar terhadap Iran apabila Teheran menolak kesepakatan terkait konflik yang dipimpin AS dan Israel. Pernyataan tersebut muncul di tengah ketidakpastian proses diplomasi yang terus memanas di kawasan Timur Tengah.

Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt menegaskan ancaman itu bukan sekadar retorika. Ia mengatakan Trump siap mengambil langkah militer jika jalur diplomasi tidak membuahkan hasil.

“Presiden Trump tidak menggertak dan dia siap melancarkan serangan yang dahsyat. Segala bentuk kekerasan setelah ini, akan terjadi karena Iran menolak untuk mengerti bahwa mereka telah kalah dan menolak untuk menjalin kesepakatan,” ujar Leavitt.

Leavitt menambahkan, pemerintah AS tidak akan memerinci pihak-pihak yang sedang diajak bernegosiasi. Menurutnya, pembicaraan yang berlangsung bersifat sensitif.

“Kami tidak akan memerinci negosiasi dan pembicaraan yang masih berlangsung ini karena, tentu saja, seperti yang dapat Anda bayangkan, hal itu merupakan pembicaraan diplomatik yang sangat sensitif,” kata Leavitt.

Dalam penilaian Gedung Putih, perang yang meletus sejak 28 Februari 2026 berpotensi berlangsung sekitar empat hingga enam pekan. Perkiraan tersebut dikaitkan dengan eskalasi serangan militer serta kompleksitas medan konflik di kawasan.

Di sisi lain, Iran menolak klaim AS terkait diplomasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan tidak ada pihak yang dapat memercayai diplomasi AS, sembari menyinggung pengalaman buruk sebelumnya, termasuk serangan yang terjadi saat perundingan nuklir.

Sikap Teheran juga ditegaskan oleh Ebrahim Zolfaghari, juru bicara komando militer utama Iran. Ia menyebut AS sedang “bernegosiasi dengan dirinya sendiri” dan menilai kekuatan strategis yang diklaim pihak lawan justru berujung pada kekalahan.

“Kekuatan strategis yang dibanggakan oleh pihak musuh telah berubah menjadi kekalahan strategis,” kata Zolfaghari.

Perbedaan pandangan antara Washington dan Teheran memicu kekhawatiran sejumlah analis internasional. Mereka menilai situasi tersebut berpotensi memengaruhi jalur pengiriman energi global serta stabilitas pasar minyak dunia.

Ketidakpastian diplomasi turut meningkatkan kerentanan kawasan, seiring keberadaan pasukan militer dan serangan balasan Iran yang dinilai menambah risiko terhadap transportasi laut dan udara di wilayah konflik.

Meski demikian, Gedung Putih menyatakan opsi militer tetap diposisikan sebagai alternatif terakhir. Peringatan Trump dipandang sebagai upaya menekan Teheran agar menerima jalur penyelesaian yang diusulkan AS dan Israel.

Sementara diplomasi di balik layar disebut masih berlangsung, ketidakpercayaan yang mendalam di antara kedua pihak membuat peluang penyelesaian damai dinilai kian sulit. Para pengamat juga menilai eskalasi ini dapat berdampak lebih luas terhadap hubungan internasional, termasuk aliansi strategis, distribusi energi, dan kestabilan geopolitik global.