BERITA TERKINI
Gangguan Selat Hormuz Dorong Harga Pupuk Melonjak, Risiko Ketahanan Pangan Menguat

Gangguan Selat Hormuz Dorong Harga Pupuk Melonjak, Risiko Ketahanan Pangan Menguat

Gangguan pelayaran di Selat Hormuz akibat eskalasi konflik Iran mulai merembet ke komoditas yang selama ini kurang mendapat sorotan luas: pupuk. Disrupsi di jalur perdagangan vital tersebut menghambat distribusi pupuk dalam skala besar, memicu lonjakan harga dan meningkatkan kekhawatiran terhadap ketahanan pangan global.

Sekitar sepertiga perdagangan pupuk global berbasis laut melewati Selat Hormuz. Namun sejak konflik memanas, lalu lintas kapal dilaporkan nyaris berhenti dan terjadi sejumlah insiden serangan terhadap kapal di kawasan itu. Hambatan ini menahan arus ekspor dari Timur Tengah, wilayah yang selama ini dikenal sebagai pusat produksi pupuk nitrogen dunia.

Harga pun bereaksi cepat. Urea granular FOB Mesir—yang menjadi salah satu acuan utama pasar pupuk nitrogen—dilaporkan naik ke kisaran US$700 per metrik ton, dari sebelumnya US$400–490 sebelum perang. Oxford Economics mencatat harga urea meningkat sekitar 50% sejak konflik dimulai, sementara amonia naik sekitar 20%. Kenaikan turut terjadi pada potash dan sulfur, memperluas tekanan ke rantai pasok pupuk.

Struktur pasok global dinilai memperparah situasi. Sekitar 30% suplai ekspor pupuk saat ini disebut tidak bisa menjangkau pasar, termasuk pengiriman dari Arab Saudi, Qatar, Bahrain, dan Iran. Iran sendiri memiliki peran penting dalam ekspor pupuk nitrogen global, dengan kontribusi signifikan dalam perdagangan urea dunia. Ketika jalur distribusi tersumbat, pasokan yang hilang segera terasa di pasar internasional.

Dampak gangguan pasok ini muncul pada periode yang krusial bagi sektor pertanian. Petani di belahan bumi utara memasuki musim tanam, sementara di belahan selatan berada dalam fase panen. Pada periode ini, kebutuhan pupuk nitrogen meningkat tajam. Urea digunakan luas untuk komoditas utama seperti jagung, gandum, dan berbagai tanaman hortikultura.

Secara teknis, nitrogen dipandang memiliki peran yang sulit digantikan dalam siklus tanam tahunan. Berbeda dengan potash atau fosfat yang masih dapat ditunda penggunaannya dalam satu musim, nitrogen perlu tersedia setiap tahun. Karena itu, gangguan distribusi berisiko mengganggu hubungan langsung antara aplikasi pupuk dan hasil panen. Penurunan pasokan saat ini membuka risiko penurunan produktivitas dalam beberapa bulan ke depan.

Tekanan kali ini dinilai lebih luas dibandingkan krisis Rusia-Ukraina pada 2022 yang terutama berdampak pada potash. Kini, gangguan menyasar nitrogen, komponen inti pertumbuhan tanaman, serta melibatkan lebih banyak negara produsen, dari Iran hingga negara-negara Teluk.

Pasar sulfur turut memperburuk kondisi. Hampir 50% perdagangan sulfur global berasal dari kawasan yang sama. Sebelum konflik, pasar sulfur sudah berada dalam kondisi ketat dan harga sempat mencapai puncak pada awal tahun. Gangguan produksi dan ekspor diperkirakan mempersempit pasokan lebih jauh, sehingga membuka ruang kenaikan harga lanjutan.

Gangguan juga terjadi dari sisi hulu produksi. Keterbatasan penyimpanan untuk produk yang tidak bisa dikirim dilaporkan memaksa beberapa fasilitas menghentikan operasi. QatarEnergy disebut menghentikan produksi urea setelah menghentikan produksi LNG. Di sisi lain, China mulai membatasi ekspor pupuk untuk menjaga pasokan domestik, yang berarti alternatif suplai global ikut menyempit.

Meski stok pangan global memasuki 2026 dalam kondisi relatif tinggi, kondisi tersebut dinilai hanya menjadi penyangga sementara. Disebutkan bahwa penurunan hasil panen sekitar 5% saja dapat mendorong inflasi pangan. Negara berkembang menjadi pihak paling rentan karena keterbatasan daya beli terhadap kenaikan harga pupuk dan pangan.

India dan kawasan Afrika Timur disebut memiliki eksposur tinggi. Ketergantungan pada impor pupuk dan gas membuat biaya produksi pertanian di wilayah ini lebih sensitif terhadap gejolak harga. Dalam situasi harga tinggi, akses pupuk dapat menyempit, sehingga petani berpotensi mengurangi penggunaan dan berdampak pada hasil panen.

Dampak juga menjalar ke negara maju. Amerika Serikat, meski memiliki produksi domestik, tetap mengimpor sekitar sepertiga kebutuhan pupuknya. Kenaikan harga global dapat langsung menekan biaya produksi petani dan memunculkan kekhawatiran terkait distribusi yang tidak merata maupun kebutuhan rasionalisasi penggunaan pupuk.

Sejumlah kelompok pertanian di AS dilaporkan meminta intervensi pemerintah untuk meredam tekanan biaya. Mereka menilai lonjakan harga energi dan pupuk di tengah musim tanam menciptakan tekanan ganda bagi sektor pertanian, sementara gangguan logistik di Selat Hormuz mempercepat transmisi tekanan tersebut ke harga pangan.