NEW YORK — Risiko terhadap ekonomi global akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran dinilai dapat meningkat tajam jika Selat Hormuz tidak kembali dibuka dalam satu hingga tiga minggu ke depan. Sejumlah pimpinan industri minyak dan analis memperingatkan, bahkan apabila jalur itu kembali beroperasi, dampak gangguan pasokan energi berpotensi bertahan lebih lama sehingga harga tetap tinggi.
Sejauh ini, risiko tersebut dinilai belum sepenuhnya tercermin pada sejumlah indikator pasar utama, termasuk pergerakan saham global dan harga minyak acuan Brent. Harga di pasar AS dan Eropa juga masih relatif lebih rendah karena adanya berbagai langkah sementara untuk meredam dampak penghentian pasokan minyak.
Namun, para analis menilai efektivitas langkah-langkah sementara itu diperkirakan memudar pada awal hingga pertengahan April 2026. Ketika hal tersebut terjadi, pemerintah AS maupun negara lain disebut memiliki ruang yang terbatas untuk menahan lonjakan harga energi.
Gangguan pasokan dipicu oleh serangan Iran terhadap kapal sipil dan infrastruktur energi di kawasan sekitar, yang menyebabkan lalu lintas di Selat Hormuz terhenti. Selat sepanjang sekitar 160 kilometer itu merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global.
Meski sebagian pasokan minyak dialihkan melalui jalur pipa, kapasitasnya terbatas. AS bersama negara lain juga telah melepas sekitar 400 juta barrel minyak dari cadangan strategis, yang disebut sebagai pelepasan terbesar sepanjang sejarah. Selain itu, Washington untuk sementara melonggarkan sanksi terhadap sebagian ekspor minyak Rusia dan Iran guna memberi ruang bagi pasar.
Pemerintah AS menyatakan strategi militer Presiden Donald Trump diyakini akan segera mengakhiri ancaman dari Iran, sehingga tekanan harga energi dapat mereda. Meski demikian, pelaku industri menilai tidak ada pengganti bagi pembukaan kembali Selat Hormuz.
CEO Chevron Mike Wirth mengatakan dampak penutupan jalur tersebut sudah mulai terasa secara nyata di berbagai belahan dunia. “Ada manifestasi fisik yang sangat nyata dari penutupan Selat Hormuz yang dampaknya terasa di seluruh dunia,” ujar Wirth dalam forum energi CERAWeek yang digelar oleh S&P Global di Houston, Texas, AS.
Senada, CEO Shell Wael Sawan menyebut gangguan yang awalnya terjadi di Asia Selatan kini telah meluas.

