Dunia ditaksir kehilangan pasokan minyak mentah senilai lebih dari 50 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp857 triliun yang belum diproduksi sejak pecahnya konflik antara AS-Israel dengan Iran di Timur Tengah. Konflik tersebut telah berlangsung hampir 50 hari.
Menurut laporan Reuters pada Senin (20/4/2026), para analis menilai dampak krisis ini berpotensi berlanjut dan dapat terasa selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun ke depan.
Data Kpler mencatat lebih dari 500 juta barel minyak mentah dan kondensat hilang dari pasar global sejak konflik dimulai pada 28 Februari. Angka itu dinilai sebagai gangguan pasokan energi terbesar dalam sejarah modern.
Kehilangan pasokan tersebut disebut setara dengan berkurangnya permintaan penerbangan global selama 10 minggu, tidak adanya perjalanan darat oleh kendaraan apa pun di seluruh dunia selama 11 hari, atau tidak adanya pasokan minyak bagi ekonomi global selama lima hari. Volume itu juga setara dengan hampir satu bulan permintaan minyak di AS, atau lebih dari satu bulan pasokan minyak untuk seluruh Eropa.
Selain itu, jumlah tersebut diperkirakan setara dengan sekitar enam tahun konsumsi bahan bakar militer AS, berdasarkan penggunaan tahunan 80 juta barel pada tahun fiskal 2021. Dampaknya juga disetarakan dengan kebutuhan industri pelayaran internasional dunia selama sekitar empat bulan.
Dalam perkembangan produksi, negara-negara Teluk Arab dilaporkan kehilangan sekitar 8 juta barel per hari produksi minyak mentah pada Maret, hampir menyamai produksi gabungan Exxon Mobil dan Chevron, dua perusahaan minyak terbesar di dunia. Sementara itu, ekspor bahan bakar jet dari Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman turun dari sekitar 19,6 juta barel pada Februari menjadi 4,1 juta barel pada Maret dan April.
Dengan harga minyak mentah yang berada di rata-rata 100 dolar AS per barel sejak konflik, volume yang hilang tersebut dihitung mewakili sekitar 50 miliar dolar AS pendapatan yang tidak terealisasi.
Kpler juga mencatat penurunan stok minyak mentah darat global sebesar 45 juta barel sepanjang April. Pada periode yang sama, gangguan produksi disebut mencapai 12 juta barel per hari sejak akhir Maret.
Proses pemulihan produksi dan aliran minyak diperkirakan berlangsung lama. Kpler menilai ladang minyak mentah berviskositas tinggi di Kuwait dan Iran berpeluang membutuhkan waktu empat hingga lima bulan untuk kembali ke tingkat operasional normal. Sementara kerusakan pada kapasitas penyulingan dan kompleks LNG Ras Laffan di Qatar disebut berpotensi memerlukan waktu pemulihan hingga bertahun-tahun.