Gangguan jalur pelayaran global akibat konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai menekan ekspor kopi Indonesia. Kondisi ini memicu ketidakpastian pengiriman ke pasar dunia, terutama ke negara-negara di Timur Tengah dan Eropa, sekaligus mendorong kenaikan biaya logistik.
Wakil Ketua Umum I Specialty Coffee Association Indonesia (SCAI) Karya Elly menyatakan dampak paling nyata terlihat pada jalur pengiriman ekspor yang tidak lagi stabil. Ketidakpastian rute kapal, keterlambatan jadwal, serta meningkatnya biaya kontainer menjadi tantangan utama bagi pelaku usaha kopi nasional.
“Rantai pasok global jelas terganggu. Jadwal kapal tertunda dan ada ketidakpastian pengiriman, biaya kontainer naik, serta terjadi penumpukan kargo di Singapura yang berdampak pada ekspor ke berbagai negara,” ujar Elly dalam keterangan tertulis, Selasa (14/04).
Menurut Elly, tekanan terbesar terjadi pada pengiriman ke kawasan Timur Tengah seperti Iran, Kuwait, Uni Emirat Arab, Irak, Bahrain, dan Qatar. Jalur pengiriman ke negara-negara tersebut bergantung pada Selat Hormuz yang dinilai memiliki risiko geopolitik tinggi.
Sementara itu, akses pengiriman menuju Arab Saudi juga dinilai terancam karena kondisi keamanan di Laut Merah yang belum stabil. Sejumlah pelayaran internasional memilih memutar rute melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan untuk menghindari risiko, namun langkah ini berimbas pada waktu tempuh yang lebih panjang.
Perubahan rute tersebut menambah waktu pelayaran hingga sekitar 18 hari dan meningkatkan biaya logistik secara signifikan. Selain itu, kenaikan harga minyak dunia turut mendorong biaya angkut laut. Situasi ini diperparah oleh kelangkaan kontainer serta biaya tambahan seperti demurrage akibat keterlambatan bongkar muat di pelabuhan transit.
“Tarif pengiriman kontainer bahkan meningkat hingga berkali-kali lipat,” kata Elly.
Elly juga menyoroti penumpukan kargo di pelabuhan transit seperti Singapura, termasuk untuk komoditas kopi Indonesia. Kondisi ini membuat distribusi ke negara tujuan tersendat dan jadwal pengiriman menjadi tidak menentu.
Dampaknya, harga pokok pembelian (HPP) di tingkat pembeli internasional ikut terdorong naik. Dalam jangka pendek, situasi ini berpotensi menekan permintaan global dan memicu penumpukan stok di gudang eksportir dalam negeri.
Di luar faktor geopolitik, pasar kopi dunia turut dibayangi potensi surplus produksi dari Brasil, produsen arabika terbesar dunia. Brasil diperkirakan mengalami kelebihan produksi sekitar 20% pada periode panen Mei–Agustus 2026, yang berpotensi menekan harga kopi global. Namun, besarnya dampak masih bergantung pada perkembangan konflik di Timur Tengah.
Hingga kini, pelaku usaha kopi Indonesia masih menunggu kepastian situasi global karena kondisi logistik dan pasar dinilai fluktuatif serta sulit diprediksi.