Lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan turun lebih dari 90 persen sejak perang Amerika Serikat (AS)–Israel meletus pada Sabtu, 28 Februari. Penurunan tajam ini memicu kekhawatiran terhadap kelancaran arus komoditas global, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu koridor maritim terpenting bagi perdagangan energi dan bahan baku pertanian.
Dalam kondisi normal, sekitar 35 persen aliran minyak mentah dunia—setara 20 juta barel per hari—melintasi Selat Hormuz. Jalur ini juga menjadi rute bagi sekitar 30 persen perdagangan pupuk serta seperlima dari pengiriman gas alam cair (LNG) global.
Dampak gangguan tersebut mulai terasa hingga sektor pertanian. Para petani menghadapi “guncangan ganda” berupa kenaikan harga pupuk dan bahan bakar, dua komponen utama yang sangat menentukan biaya dan kapasitas produksi pertanian.
Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Máximo Torero, mengatakan bahwa konflik yang kian intensif di Teluk Persia telah memicu “salah satu gangguan tercepat dan terparah terhadap arus komoditas global dalam beberapa waktu terakhir.” Pernyataan itu disampaikan pada Kamis (26/3) kepada wartawan di Markas Besar PBB di New York, sebagaimana dikutip UN News.
Menurut Torero, krisis ini tidak hanya memengaruhi produksi pertanian dan ketahanan pangan di berbagai negara, tetapi juga berdampak pada petani dan pekerja migran. Ia menekankan pentingnya kecepatan penanganan situasi.
“Faktor waktu sangat penting saat ini dan waktu terus berjalan, dan saya pikir kita perlu menemukan solusi sesegera mungkin,” kata Torero dalam konferensi video dari Roma.
Ia menambahkan, apabila solusi dapat ditemukan dalam waktu dekat, pasar berpeluang stabil dalam sekitar tiga bulan. Namun, prospeknya akan berbeda jika gangguan di jalur perdagangan tersebut terus berlanjut.

