PARIS — Negara-negara anggota G7 menyatakan kesiapan untuk mengambil langkah tegas guna menstabilkan pasar energi global di tengah lonjakan harga energi yang memicu kekhawatiran inflasi dan menekan daya beli masyarakat.
Dalam telekonferensi para menteri ekonomi dan keuangan G7 yang diselenggarakan Prancis selaku pemegang presidensi G7 tahun ini, kelompok tersebut menegaskan siap mengambil semua langkah yang diperlukan secara terkoordinasi. Pernyataan itu disampaikan di tengah perang Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Situasi di kawasan turut memengaruhi pasar energi. Disebutkan bahwa blokade Selat Hormuz mendorong harga minyak Brent, yang menjadi acuan global, melampaui 116 dolar AS per barel.
G7 juga menyerukan agar negara-negara tidak memberlakukan pembatasan ekspor yang tidak berdasar terhadap minyak, gas, dan produk terkait. Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) menyampaikan opsi pengelolaan permintaan energi yang dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara.
Sebelumnya, IEA memutuskan untuk melepas 400 juta barel minyak dari cadangan strategis guna menurunkan harga global. Menteri Keuangan Jepang menekankan pentingnya mencegah dampak harga minyak yang tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Inggris, dalam kesempatan yang sama, menyerukan penyelesaian cepat konflik di Timur Tengah. Meski G7 bukan pihak langsung dalam perang, dampak ekonominya dinilai bersifat global.
Selain langkah di sektor energi, bank sentral negara-negara G7 menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas harga dan menetapkan kebijakan moneter berbasis data. G7 menyatakan fokusnya tetap pada stabilitas dan keamanan pasar energi.
Lonjakan harga energi dinilai berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi global, sehingga koordinasi internasional dianggap penting. Upaya G7 bersama mitra diarahkan untuk memperkuat ketahanan pasar energi global di tengah ketegangan yang terus berlangsung di Timur Tengah.

