BERITA TERKINI
Fokus AS Tersedot ke Timur Tengah, Pengamat Nilai China Perluas Manuver di Indo-Pasifik

Fokus AS Tersedot ke Timur Tengah, Pengamat Nilai China Perluas Manuver di Indo-Pasifik

Konflik yang berlangsung di Timur Tengah dinilai tidak hanya berdampak pada aspek kemanusiaan dan keamanan regional, tetapi juga mulai menggeser lanskap strategis global. Sejumlah pengamat menilai, perhatian Amerika Serikat (AS) yang tersedot ke kawasan tersebut membuka ruang bagi China untuk memperluas pengaruhnya di Asia, khususnya Indo-Pasifik.

Presiden Center for Indo-Pacific Strategic Studies, Profesor Pema Gyalpo, mengatakan perhatian, sumber daya, dan energi diplomatik Washington yang terpusat di Timur Tengah menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi Beijing. Menurut dia, pola semacam ini bukan hal baru.

Gyalpo menilai, dalam dua dekade terakhir, periode keterlibatan intensif AS di Timur Tengah kerap diiringi peningkatan aktivitas strategis China di Asia. Ia mencontohkan periode perang Irak pada 2003-2008, ketika Beijing memperluas kehadirannya di Laut China Selatan dengan tekanan eksternal yang relatif minim.

Situasi serupa, menurutnya, juga terlihat pada 2021 saat AS menarik pasukannya dari Afghanistan. Pada periode tersebut, Taiwan mencatat lebih dari 900 penerbangan pesawat militer China ke zona identifikasi pertahanan udara (ADIZ), yang disebut sebagai angka tertinggi yang pernah tercatat.

“Aktivitas tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan bertahap yang dikalibrasi sesuai kondisi global,” ujar Gyalpo, yang pernah menjadi perwakilan Dalai Lama untuk Jepang selama 15 tahun.

Ia juga menyoroti keterbatasan distribusi kekuatan militer AS sebagai faktor penting. Kehadiran satu kelompok tempur kapal induk—yang melibatkan sekitar 7.500 personel dan kemampuan tempur udara canggih—dinilai berpengaruh besar terhadap keseimbangan kekuatan. Ketika aset tersebut difokuskan ke kawasan seperti Mediterania Timur atau Laut Merah, kehadirannya di Pasifik Barat otomatis berkurang.

Padahal, strategi Indo-Pasifik AS yang dijalankan melalui kerja sama seperti AUKUS dan Quad disebut sangat bergantung pada kehadiran militer di garis depan serta sinyal deterensi yang kredibel. Gyalpo menilai, pengurangan kecil dalam kehadiran itu dapat mengubah kalkulasi strategis di kawasan.

Isu Taiwan dan India

Dampak pergeseran perhatian global itu, menurut Gyalpo, terlihat di sekitar Taiwan dan wilayah sensitif lain di sekitar China. Dalam beberapa tahun terakhir, Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) meningkatkan latihan militer yang mencakup simulasi blokade, operasi amfibi, serta manuver gabungan laut dan udara.

Selain itu, pelanggaran berulang terhadap garis tengah Selat Taiwan—yang sebelumnya berfungsi sebagai batas tidak resmi—dinilai telah mengikis norma lama. Gyalpo menilai, setiap pelanggaran yang hanya direspons dengan protes rutin tanpa tindakan lanjutan berkontribusi pada normalisasi situasi baru.

Pola serupa, menurutnya, juga terlihat di perbatasan India-China dalam konteks berbeda. Bentrokan di Lembah Galwan pada Juni 2020 disebut terjadi setelah mobilisasi militer China selama berminggu-minggu, bertepatan dengan periode ketika India menghadapi dampak awal pandemi Covid-19 dan perhatian global terpecah.

Setelah insiden itu, dinamika di kawasan perbatasan berkembang lebih senyap, dengan kombinasi penarikan pasukan sebagian dan pembangunan infrastruktur oleh China di sepanjang Line of Actual Control (LAC). Pengamat menilai, langkah-langkah tersebut secara kolektif mengubah keseimbangan strategis tanpa memicu konflik terbuka.

Strategi global China

Gyalpo menilai pendekatan China lebih mengandalkan akumulasi tindakan kecil yang sulit ditentang secara individual, tetapi menjadi signifikan jika dilihat secara keseluruhan. Menurut dia, hal ini juga memungkinkan Beijing membingkai ketegangan sebagai isu bilateral, bukan bagian dari persaingan strategis yang lebih luas di Indo-Pasifik.

Di sisi lain, dominasi perhatian global terhadap konflik Timur Tengah disebut mengurangi sorotan terhadap perkembangan di Asia, sehingga menurunkan biaya politik dan strategis bagi langkah bertahap yang dilakukan China.

Gyalpo menilai dinamika ini bukan sekadar oportunisme jangka pendek, melainkan bagian dari pola struktural strategi China. Ia mengatakan Beijing cenderung memanfaatkan periode ketika pengawasan global melemah untuk melakukan penyesuaian bertahap tanpa memicu eskalasi besar.

“Konflik di Timur Tengah tidak mengubah strategi dasar tersebut, tetapi memperpanjang kondisi yang membuat pendekatannya menjadi efektif,” pungkasnya.