Fitch Ratings mempertahankan peringkat kredit negara (sovereign credit rating) Indonesia pada level BBB atau kategori layak investasi (investment grade). Namun, lembaga pemeringkat internasional tersebut menyesuaikan outlook atau prospek peringkat Indonesia dari stabil menjadi negatif.
Menanggapi perubahan outlook itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan masyarakat dan pelaku pasar tidak perlu khawatir. Ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan.
“Jadi, tidak usah takut S&P (global ratings) dan Fitch mengeluarkan outlook untuk negatif,” kata Purbaya dalam Media Briefing dan buka puasa bersama media di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3).
Menurut Purbaya, perubahan outlook dari lembaga pemeringkat global merupakan bagian dari dinamika ekonomi global. Pemerintah, kata dia, akan terus memantau kondisi ekonomi dan melakukan perbaikan kebijakan untuk menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Purbaya menegaskan outlook negatif tidak berarti kondisi ekonomi Indonesia melemah secara fundamental. Ia menyebut fondasi ekonomi nasional masih kokoh dan tidak ada perubahan signifikan yang perlu dikhawatirkan.
“Fondasi kita masih kuat. Tidak ada yang berubah. Kita masih dalam fase eksplorasi pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah saat ini masih berada dalam fase eksplorasi pertumbuhan ekonomi sehingga berbagai kebijakan perbaikan akan terus dilakukan untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
Optimalisasi lembaga keuangan negara
Dalam upaya memperkuat pertumbuhan ekonomi, Purbaya menyampaikan pemerintah juga akan mengoptimalkan peran sejumlah lembaga keuangan milik negara yang dinilai belum dimanfaatkan secara maksimal.
Ia menyebut PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI), PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (PII), dan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) sebagai institusi yang memiliki potensi besar untuk mendorong pembangunan ekonomi. Menurutnya, lembaga-lembaga tersebut perlu bekerja lebih aktif dalam mendukung pembiayaan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kita punya. SMI, LPEI, PII, SMF. Ada banyak lembaga yang belum kita optimalkan. Mereka mungkin selama ini santai-santai saja gaji gede. Tapi saya akan dorong lebih keras lagi. Supaya mereka bisa bekerja lebih keras,” ujarnya.
Peran INA akan dimaksimalkan
Selain itu, Purbaya mengatakan pemerintah akan memaksimalkan peran Indonesia Investment Authority (INA). Ia menilai INA memiliki dana besar, namun belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
Purbaya menegaskan pemerintah akan memastikan lembaga-lembaga tersebut berfungsi optimal sebagai engine of growth dari sisi fiskal, sembari menjaga agar sektor swasta tetap berjalan dengan baik sehingga perekonomian nasional tidak menghadapi masalah serius.
“Kita punya INA. Punya uang banyak ya. Belum terlalu digunakan secara maksimal. Kita akan pastikan dia bekerja lebih keras ke depan. Jadi, engine of growth-nya kita jaga dari segi fiskal juga,” pungkasnya.

