JAKARTA — Memanasnya situasi geopolitik global akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kembali memicu kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta masa depan tatanan hubungan internasional.
Menanggapi kondisi tersebut, Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI Firman Soebagyo menekankan pentingnya Indonesia meneguhkan kembali prinsip politik luar negeri yang berakar dari sejarah bangsa, salah satunya melalui Dasa Sila Bandung.
“Di tengah hiruk pikuk perang yang sedang berkecamuk, ketika Amerika dan Israel melakukan serangan terhadap Iran, dunia justru diingatkan kembali pada nilai-nilai dasar yang pernah dirumuskan di Indonesia melalui Dasa Sila Bandung,” ujar Firman Soebagyo saat menjawab pertanyaan wartawan di DPR RI.
Ia menegaskan, prinsip tersebut menggarisbawahi bahwa hubungan antarnegara perlu dibangun di atas penghormatan terhadap kedaulatan, penyelesaian sengketa secara damai, serta penolakan terhadap agresi. “Prinsip ini menegaskan bahwa hubungan antar negara harus dibangun di atas penghormatan terhadap kedaulatan, penyelesaian sengketa secara damai, dan penolakan terhadap agresi,” katanya.
Firman menjelaskan, Dasa Sila Bandung merupakan sepuluh prinsip dasar hubungan internasional yang lahir dari Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Konferensi tersebut mempertemukan negara-negara berkembang untuk merumuskan arah baru diplomasi global yang lebih adil dan setara.
Menurutnya, prinsip-prinsip Dasa Sila Bandung mencakup penghormatan terhadap hak asasi manusia, pengakuan persamaan derajat antara bangsa besar maupun kecil, hingga larangan penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah dan kemerdekaan politik suatu negara.
“Dasa Sila Bandung adalah warisan moral diplomasi Indonesia kepada dunia. Prinsip-prinsip ini menolak dominasi kekuatan besar, menolak agresi militer, dan menegaskan bahwa setiap negara, besar ataupun kecil memiliki hak yang sama dalam sistem internasional,” tegas Firman, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia.
Dalam pandangannya, di tengah konflik global yang melibatkan kekuatan besar, nilai-nilai tersebut justru semakin relevan. Ia menilai penggunaan kekuatan militer dan eskalasi konflik hanya akan memperpanjang ketegangan global serta berpotensi mengganggu stabilitas kawasan.
“Jika dunia benar-benar ingin menjaga perdamaian global, maka pendekatan yang harus dikedepankan adalah dialog dan diplomasi, bukan eskalasi militer. Prinsip Bandung mengajarkan bahwa sengketa internasional harus diselesaikan melalui cara-cara damai sesuai dengan Piagam PBB,” ujar Firman.
Sebagai anggota Komisi IV DPR RI, Firman juga menyatakan Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk terus menggaungkan semangat Bandung dalam politik luar negeri. Menurutnya, sebagai negara yang sejak awal mengusung politik luar negeri bebas aktif, Indonesia tidak boleh terjebak dalam polarisasi kekuatan global, melainkan tetap berdiri sebagai penggerak perdamaian dunia.
“Indonesia memiliki legitimasi sejarah untuk berbicara tentang perdamaian dunia. Konferensi Asia-Afrika membuktikan bahwa bangsa-bangsa di dunia bisa duduk bersama untuk menolak kolonialisme, dominasi kekuatan besar, dan politik kekerasan. Semangat itulah yang harus terus kita hidupkan,” kata Firman.
Ia menambahkan, Dasa Sila Bandung pada dasarnya menekankan tiga hal utama dalam hubungan internasional, yakni penghormatan terhadap kedaulatan negara, peningkatan kerja sama yang saling menguntungkan, serta penyelesaian konflik melalui jalur damai.
“Dalam situasi global yang semakin tidak pasti, dunia justru membutuhkan kembali nilai-nilai Bandung. Prinsip ini bukan hanya relevan bagi negara-negara Asia-Afrika, tetapi juga bagi seluruh komunitas internasional yang ingin menjaga tatanan dunia yang lebih adil, seimbang, dan damai,” pungkas legislator asal Pati, Jawa Tengah tersebut.

