BERITA TERKINI
Film Debut Reza Rahadian “Pangku” Tayang di JAFF, Angkat Realitas “Kopi Pangku” Pantura

Film Debut Reza Rahadian “Pangku” Tayang di JAFF, Angkat Realitas “Kopi Pangku” Pantura

Film On Your Lap atau Pangku menandai debut penyutradaraan film panjang aktor Reza Rahadian. Setelah mencuri perhatian di sejumlah ajang festival film internasional dan meraih penghargaan di Busan International Film Festival (BIFF), film ini hadir di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) dan memicu diskusi serta apresiasi dari penonton.

JAFF merupakan festival film di Indonesia yang berfokus pada perkembangan sinema Asia. Diselenggarakan di Yogyakarta bekerja sama dengan NETPAC (Network for the Promotion of Asian Cinema), festival ini menjadi ruang pemutaran sekaligus pertemuan bagi pembuat film, penggemar, dan publik untuk membahas karya-karya Asia—mulai dari film panjang, film pendek, dokumenter, hingga animasi. JAFF juga dikenal melalui penghargaan seperti Golden Hanoman Award dan NETPAC Award.

Pangku adalah drama berlatar akhir 1980-an yang mengangkat isu sosial sensitif yang kerap terpinggirkan. Cerita berpusat pada fenomena “kopi pangku” yang ditemukan di sepanjang Jalur Pantai Utara Jawa (Pantura), jalur transportasi utama. Reza Rahadian menyebut film ini sebagai surat cinta personal untuk para ibu yang berjuang, terinspirasi dari kisah perjuangan ibunya.

Kisahnya mengikuti Sartika (Claresta Taufan), seorang ibu muda yang sedang hamil dan terdesak kondisi ekonomi. Ia pindah ke sebuah kedai kopi di Pantura milik Bu Maya (Christine Hakim) dengan harapan mendapat peluang hidup yang lebih baik bagi anaknya. Namun, di tempat itu Sartika dipaksa bekerja tidak hanya menyajikan kopi, melainkan juga memberikan layanan “kopi pangku” kepada sopir truk—pelanggan menikmati kopi sambil memangku pramusaji.

Situasi tersebut menghadirkan realitas keras tentang tubuh perempuan yang diperlakukan sebagai komoditas, sekaligus mencerminkan tekanan sosial-budaya dan ekonomi yang membelit tokoh utama. Titik balik muncul ketika Sartika bertemu Hadi (Fedi Nuril), sopir truk distributor ikan yang menunjukkan simpati dan menjadi secercah harapan untuk keluar dari lingkaran eksploitasi demi masa depan anaknya. Film ini berupaya menanggalkan stigma dan melihat para pekerja dalam realitas itu sebagai manusia yang berjuang.

Dari sisi estetika, Reza Rahadian memilih pendekatan realis puitis. Sinematografi yang digarap Teo Gay Hian menangkap suasana Pantura yang sunyi, namun menyimpan gairah dan ancaman. Penggunaan wide shot kerap menegaskan kesendirian dan kerentanan Sartika di tengah kerasnya kehidupan jalanan, sementara close-up dipakai untuk mendekatkan penonton pada dilema batin para karakter.

Narasi film bergerak tenang dengan gaya slice of life dan menghindari dramatisasi berlebihan. Skenario yang ditulis Felix K. Nesi bersama Reza Rahadian menekankan detail dan nuansa latar, yang memperkuat dampak emosional. Cerita tidak berhenti pada fenomena “kopi pangku”, tetapi meluas pada tema keibuan, harapan, dan martabat dalam keterbatasan.

Secara perspektif, film ini berpijak pada realisme sosial dengan sentuhan feminisme materialis. Pangku menyoroti bagaimana struktur ekonomi dan kondisi sosial-budaya dapat memaksa seseorang menerima pekerjaan yang eksploitatif demi bertahan hidup. Selain itu, film memasukkan paradigma keibuan dan afeksi, termasuk melalui karakter Pak Jaya (Jose Rizal Manua) yang digambarkan sebagai sosok pria pendiam—refleksi sutradara atas pengalaman masa kecilnya yang dibesarkan oleh ibu tunggal.

Sejumlah kekuatan film disebut berada pada naskah dan arah artistik yang tenang, jujur, dan puitis, serta keberanian memilih isu sosial yang sensitif dalam debut film panjang. Akting Claresta Taufan sebagai Sartika menjadi sorotan, didukung penampilan Christine Hakim dan Fedi Nuril. Film ini juga disebut memperoleh pengakuan di tingkat internasional, termasuk di BIFF, HAF Goes to Cannes, serta disebut meraih Piala Citra Film Terbaik 2025.

Di sisi lain, gaya penceritaan yang tenang dapat terasa lambat bagi sebagian penonton yang terbiasa dengan alur lebih cepat. Fokus yang sangat spesifik pada fenomena kultural “kopi pangku” Pantura juga berpotensi membutuhkan konteks lebih kuat bagi penonton yang tidak akrab dengan latar tersebut. Selain itu, meskipun film berupaya melepaskan stigma, penggambaran realitas yang kelam dinilai berisiko disalahartikan bila tidak dipahami dalam konteks dan tujuan penceritaan.

Melalui penayangan di JAFF, Pangku memperlihatkan langkah baru Reza Rahadian sebagai sutradara, sekaligus mengajak penonton melihat pergulatan perempuan yang kerap dihakimi. Film ini menegaskan sisi manusiawi di balik pekerjaan dan pilihan yang muncul dari desakan hidup.