Kedermawanan di era kapitalisme modern kini tidak lagi dipandang semata sebagai tindakan moral individual. Praktik filantropi disebut telah berkembang menjadi bagian dari sistem ekonomi yang terstruktur dan terencana.
Pandangan tersebut disampaikan Pengamat Ekonomi Kreatif, Budaya, dan Pariwisata, Harry Waluyo, dalam catatannya mengenai perkembangan filantropi global. Menurutnya, filantropi saat ini banyak dijalankan tokoh-tokoh besar dunia melalui yayasan yang dikelola secara profesional.
Waluyo menilai filantropi modern telah berevolusi dan terintegrasi dengan strategi ekonomi para pemilik modal. Ia juga menyebut bahwa di banyak negara, donasi kepada lembaga amal berkaitan erat dengan kebijakan fiskal, termasuk insentif pajak yang memang dirancang untuk mendorong keterlibatan sektor swasta.
“Ini bukan penyimpangan, melainkan desain kebijakan yang membuat filantropi menjadi bagian dari mekanisme ekonomi,” kata Waluyo.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa batas antara kedermawanan dan kepentingan ekonomi semakin kabur. Sejumlah yayasan besar mengelola dana secara produktif melalui investasi, sehingga aset dapat terus berkembang sembari menjalankan program sosial.
Dalam konteks itu, Waluyo menyebut keputusan untuk berdonasi tidak sepenuhnya didorong oleh altruism, melainkan juga rasionalitas ekonomi.
Meski demikian, ia menegaskan dampak positif filantropi tetap nyata, terutama pada sektor pendidikan, kesehatan, dan pengentasan kemiskinan. Namun, fenomena meningkatnya kekayaan para filantrop juga menjadi perhatian.
Menurut Waluyo, dalam sistem kapitalisme modern, seseorang masih dapat memberi tanpa kehilangan posisi ekonominya secara signifikan. Ia menutup dengan menekankan bahwa kedermawanan modern berada di antara ketulusan dan kepentingan sistem.
“Kita sedang menyaksikan bentuk baru kedermawanan, yakni altruisme yang dioptimalkan dalam kerangka ekonomi,” ujarnya.

