Eskalasi serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran dinilai berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi global, termasuk Indonesia. Direktur Ekonomi Digital Celios Nailul Huda memperingatkan, konflik tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak mentah yang berujung pada pembengkakan beban subsidi energi di dalam negeri.
Huda mencatat harga minyak mulai merangkak naik ke sekitar US$ 73 per barel, setelah sempat berada di level US$ 65 per barel pada awal Februari. Ia memperkirakan harga minyak global berpeluang menembus US$ 120 per barel, serupa dengan kondisi saat Rusia menginvasi Ukraina.
Menurut Huda, risiko utama datang dari kemungkinan meluasnya konflik yang dapat memicu penutupan jalur minyak di Selat Hormuz. Ia juga menyebut adanya informasi bahwa Houthi berpotensi masuk dalam perang, yang menurutnya dapat memperkeruh situasi di Laut Merah.
Ia menilai penutupan Selat Hormuz menjadi ancaman serius karena jalur tersebut melayani sekitar 30% perdagangan minyak mentah dunia. Jika pasokan terganggu, ia memperkirakan harga minyak dunia akan melonjak.
Selain itu, Huda menyoroti potensi gejolak di Bab El-Mandab yang dapat mengganggu arus perdagangan global yang melewati Mesir. Kondisi tersebut dapat memaksa kapal memutar melalui Afrika dan mendorong kenaikan harga barang secara global.
Huda menilai kenaikan harga minyak dan barang impor berisiko menekan postur anggaran negara. Ia mengatakan, ketika harga minyak mentah dan barang impor naik, beban subsidi pemerintah—terutama untuk BBM—dapat membengkak. Ia memperingatkan anggaran berpotensi jebol apabila tidak ada realokasi anggaran untuk subsidi BBM.
Di sisi lain, ia menilai upaya mengandalkan penerimaan negara akan sulit dilakukan di tengah ketidakpastian global. Ia juga menyebut opsi penambahan utang baru tidak mudah, merujuk pada laporan dari Moody’s serta terbaru S&P yang menilai kondisi pengelolaan fiskal Indonesia buruk.
Bagi dunia usaha, Huda menilai kenaikan biaya logistik atau freight menjadi ancaman akibat membengkaknya biaya bensin dan asuransi. Menurutnya, kondisi ini dapat berdampak langsung pada pelaku usaha domestik, baik yang berorientasi ekspor maupun yang bergantung pada bahan baku impor.
Ia menambahkan, kenaikan harga impor berpotensi memicu imported inflation. Jika tidak dikelola dengan baik, dampaknya dapat meluas ke pelaku usaha dalam negeri yang bergantung pada impor maupun yang bergerak di sektor ekspor.

