BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik di Selat Hormuz Dinilai Berpotensi Mengguncang Stabilitas Global dan Ekonomi Indonesia

Eskalasi Konflik di Selat Hormuz Dinilai Berpotensi Mengguncang Stabilitas Global dan Ekonomi Indonesia

Rasminto menilai memanasnya konflik di kawasan Selat Hormuz merupakan sinyal serius bagi stabilitas global karena dampaknya tidak berhenti pada level regional. Menurutnya, setiap eskalasi di Timur Tengah dapat merambat ke berbagai negara melalui jalur ekonomi, energi, dan keamanan internasional.

“Konflik di Timur Tengah selalu memiliki efek domino terhadap stabilitas global. Ketika ketegangan meningkat, harga minyak melonjak, jalur perdagangan strategis berada dalam bayang-bayang gangguan, dan stabilitas geopolitik dunia ikut dipertanyakan,” kata Rasminto dalam keterangannya, Kamis, 12 Maret 2026.

Ia menjelaskan, dalam situasi seperti ini tidak ada negara yang sepenuhnya berada di luar jangkauan dampak, termasuk Indonesia yang secara geografis jauh dari pusat konflik. Karena itu, peningkatan kesiapsiagaan TNI, menurutnya, perlu dipahami sebagai wujud kewaspadaan negara, bukan sebagai pertanda Indonesia akan terseret dalam konflik global.

“Ini bukan alarmisme pertahanan, tetapi bentuk antisipasi strategis. Dalam dunia yang saling terhubung, konflik regional dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis global yang memengaruhi stabilitas ekonomi, keamanan kawasan, bahkan kohesi sosial di dalam negeri,” ujarnya.

Rasminto menyoroti posisi Selat Hormuz sebagai salah satu variabel penting dalam eskalasi konflik di Timur Tengah. Selat ini disebut sebagai jalur vital distribusi energi dunia. Setiap hari, sekitar 20 juta barel minyak—atau hampir seperlima konsumsi global—melintasi jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia tersebut. Selain itu, sekitar seperlima perdagangan gas alam cair dunia juga melewati kawasan yang sama.

“Artinya, setiap ketegangan yang berpotensi mengganggu Selat Hormuz hampir pasti akan memicu guncangan besar pada pasar energi dunia,” jelasnya.

Bagi negara-negara Asia, dampaknya dinilai lebih signifikan karena sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Teluk Persia mengalir ke pasar Asia, seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan.

Ia juga menyinggung lonjakan harga energi global yang terjadi sejak meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Menurutnya, harga minyak mentah Brent sempat naik sekitar 8–9 persen sejak serangan pada 28 Februari 2026, bahkan diproyeksikan berpotensi menembus 100 dolar AS per barel apabila konflik terus meningkat.

Rasminto menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa Indonesia tetap rentan terhadap gejolak harga energi global. Meski Indonesia tidak lagi menjadi eksportir minyak utama seperti pada era 1970-an, kebutuhan energi yang terus meningkat membuat stabilitas harga minyak dunia tetap berdampak langsung terhadap ekonomi nasional.