Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran sejak akhir Februari 2026 mulai berdampak pada industri teknologi global. Ketegangan di Timur Tengah kini dinilai mengancam pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) di kawasan Teluk yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi tujuan investasi perusahaan teknologi besar.
Sejumlah perusahaan seperti Nvidia, Microsoft, Oracle, hingga OpenAI menghadapi meningkatnya risiko terhadap proyek infrastruktur digital mereka di kawasan tersebut seiring memburuknya situasi keamanan. Negara-negara Teluk, termasuk Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Qatar, sebelumnya aktif menarik investasi melalui berbagai insentif modern, dengan pengembangan infrastruktur komputasi AI sebagai prioritas dalam strategi diversifikasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan gas.
Namun, kondisi berubah setelah serangan drone yang menargetkan fasilitas vital pada awal Maret 2026. Pada Minggu (1/3/2026), dua pusat data milik Amazon Web Services di Uni Emirat Arab dilaporkan terkena serangan, sehingga perusahaan menghentikan sementara operasionalnya di kawasan tersebut.
Proyek Stargate UAE—pusat data AI berskala besar yang dikembangkan OpenAI dan Oracle dengan dukungan teknologi chip dari Nvidia—juga disebut berada dalam ancaman. Proyek yang diluncurkan pada Mei 2025 di Abu Dhabi itu sebelumnya digadang-gadang menjadi salah satu pusat data AI terbesar di dunia di luar Amerika Serikat.
Ancaman terhadap industri teknologi di kawasan Teluk disebut tidak hanya datang dari serangan siber, tetapi juga potensi serangan fisik terhadap infrastruktur vital. Direktur Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, Mona Yacoubian, menilai meningkatnya risiko keamanan membuat investor global mulai khawatir terhadap stabilitas kawasan.
Selain pusat data, jaringan kabel serat optik bawah laut yang melintasi Selat Hormuz dan Laut Merah juga berada dalam potensi ancaman. Jalur ini merupakan koridor penting lalu lintas data global yang menghubungkan Eropa dan Asia.
Peneliti senior di Rabdan Security & Defense Institute, Kristian Alexander, menyebut industri teknologi menghadapi ancaman ganda, yakni serangan siber jarak jauh serta potensi serangan militer terhadap infrastruktur fisik. Kerentanan itu semakin terlihat setelah insiden jatuhnya puing drone di area penyimpanan minyak strategis di Fujairah, yang menegaskan bahwa infrastruktur energi maupun digital di daratan Teluk berada dalam risiko yang sama di tengah eskalasi konflik.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah negara-negara Teluk dilaporkan mulai menyiapkan strategi baru untuk memperkuat ketahanan infrastruktur teknologi. Upaya itu mencakup perancangan pusat data dan jaringan digital yang lebih tahan terhadap ancaman serangan rudal maupun sabotase militer, dengan tujuan menjaga keberlanjutan industri AI yang tengah berkembang di kawasan tersebut.

