BERITA TERKINI
Eskalasi Konflik AS–Israel–Iran Dinilai Berisiko Tekan Ekspor dan Industri, Buruh Diminta Cermati Dampaknya

Eskalasi Konflik AS–Israel–Iran Dinilai Berisiko Tekan Ekspor dan Industri, Buruh Diminta Cermati Dampaknya

Perkembangan geopolitik di Timur Tengah belakangan memicu kekhawatiran baru terhadap dampak ekonomi global, termasuk bagi Indonesia. Ketegangan yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran dinilai tidak hanya berimplikasi pada aspek politik dan keamanan kawasan, tetapi juga berpotensi memengaruhi perdagangan, industri, hingga kondisi ketenagakerjaan di dalam negeri.

Situasi tersebut dipandang menghadirkan ketidakpastian: eskalasi konflik bisa berdampak besar, namun kecepatan dan jalur rambatannya ke ekonomi sehari-hari sulit diprediksi. Dalam konteks ini, kaum buruh disebut perlu mengikuti perkembangan konflik secara cermat agar tidak hanya menunggu dampak tanpa memahami sumber risikonya.

Sejumlah pihak menilai perkembangan konflik global perlu dipantau bersama karena dapat memengaruhi industri, lapangan kerja, dan penghidupan pekerja. Dampak konflik, menurut mereka, tidak selalu terasa jauh, terutama ketika aktivitas ekonomi lintas negara terganggu.

Ekspor otomotif disebut terdampak

Salah satu contoh yang disampaikan datang dari sektor otomotif. Dalam laporan seorang pekerja di industri tersebut, disebutkan bahwa orientasi ekspor otomotif Indonesia cukup besar. Sekitar 65% produksi kendaraan diekspor ke berbagai negara, dan sekitar 50% dari ekspor itu diarahkan ke kawasan Timur Tengah.

Ketika kawasan tujuan ekspor terganggu oleh konflik, aktivitas perdagangan ikut terdampak. Laporan yang diterima menyebut ekspor ke Timur Tengah saat ini praktis berhenti. Jika dihitung sederhana, sekitar 30% produksi yang biasanya berjalan menjadi tidak dapat dilakukan.

Apabila kondisi itu berlangsung lama, dampaknya dikhawatirkan merembet ke pengurangan produksi hingga berujung pada potensi pemutusan hubungan kerja. Gambaran tersebut memperlihatkan bagaimana konflik internasional dapat langsung terasa pada aktivitas industri dan pekerja di Indonesia.

Pandangan ekonom dalam forum serikat buruh

Perspektif lebih luas mengenai situasi ini dibahas dalam Forum Urun Rembug Serikat Buruh di Jakarta. Sejumlah narasumber hadir, di antaranya ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Fadhil Hasan serta Teguh Santosa dari Great Institute.

Dalam forum itu, dampak geopolitik disebut perlu dilihat dari berbagai sisi, mulai dari ekonomi, energi, perdagangan, hingga ketenagakerjaan. Para pemimpin buruh dinilai perlu memiliki pemahaman memadai agar dapat merespons situasi secara bijak sekaligus memberi masukan konstruktif kepada pemerintah.

Ruang diplomasi Indonesia

Fadhil Hasan menilai Indonesia memiliki ruang untuk memainkan peran diplomatik dalam meredakan konflik di Timur Tengah. Ia menyebut Prabowo Subianto memiliki peluang memanfaatkan jaringan hubungan dengan berbagai pemimpin negara sahabat untuk membangun komunikasi internasional yang dapat membantu meredakan ketegangan.

Dalam pandangan tersebut, diplomasi dinilai penting karena konflik global tidak selalu diselesaikan melalui kekuatan militer, tetapi juga melalui dialog dan negosiasi. Indonesia, sebagai negara dengan tradisi diplomasi aktif, dinilai dapat berkontribusi mendorong stabilitas internasional yang pada akhirnya berdampak pada stabilitas ekonomi global.

Isu ketahanan energi

Terkait kekhawatiran publik mengenai ketersediaan energi, khususnya bahan bakar minyak, Fadhil Hasan menilai masyarakat tidak perlu terlalu cemas terhadap isu stok minyak nasional yang disebut hanya tersisa sekitar 23 hari. Ia menjelaskan, dalam praktiknya stok tersebut selalu diperbarui sebelum mencapai batas kritis.

Ia juga menyampaikan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor minyak dari Timur Tengah relatif kecil, sekitar 5%. Pasokan minyak Indonesia, menurutnya, lebih banyak berasal dari negara-negara Afrika seperti Nigeria dan Angola, serta dari Amerika Serikat meski biaya pengirimannya lebih mahal. Diversifikasi sumber pasokan tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan energi nasional.

Ketahanan ekonomi dan keterhubungan rantai pasok

Fadhil Hasan juga menyinggung struktur ekonomi Indonesia yang dinilai memiliki karakteristik tersendiri. Keterhubungan Indonesia terhadap rantai pasok global disebut masih relatif lebih kecil dibanding beberapa negara tetangga.

Volume perdagangan Indonesia saat ini disebut berada di kisaran 600 miliar dolar AS. Sebagai perbandingan, perdagangan Malaysia disebut lebih dari 700 miliar dolar AS, sementara Singapura sekitar 550 miliar dolar AS meski jumlah penduduknya jauh lebih kecil.

Kondisi tersebut dinilai memberi semacam bantalan saat terjadi gejolak ekonomi global karena dampaknya tidak selalu langsung memukul ekonomi nasional secara bersamaan. Meski demikian, situasi itu disebut tidak boleh membuat lengah dan justru perlu dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

Buruh diminta tidak menjadi penonton

Forum tersebut menekankan bahwa pekerja tidak seharusnya menjadi penonton dalam dinamika ekonomi dunia. Dengan memahami perkembangan geopolitik, buruh dinilai dapat ikut mendorong kebijakan yang melindungi kepentingan masyarakat.

Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, sejumlah pihak menilai kemampuan membaca situasi dengan tenang, memperkuat solidaritas sosial, serta membangun komunikasi antara pemerintah, dunia usaha, dan pekerja menjadi kunci menghadapi perubahan yang cepat.