BERITA TERKINI
Eskalasi AS-Israel dengan Iran Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak dan Inflasi Global

Eskalasi AS-Israel dengan Iran Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak dan Inflasi Global

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat dan meluas dengan melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Operasi militer yang menyasar sejumlah fasilitas strategis di Iran memunculkan kekhawatiran terhadap stabilitas perekonomian global, terutama karena risiko gangguan pasokan minyak mentah yang dapat mendorong harga energi dunia naik ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Israel sebelumnya mengonfirmasi pelaksanaan operasi militer berskala besar dengan sandi “Rising Lion”. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan operasi tersebut ditujukan untuk mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, dengan sasaran antara lain ilmuwan, program rudal balistik, serta fasilitas pengayaan uranium di Natanz.

Pejabat militer Israel mengklaim Iran telah memiliki cukup material untuk memproduksi hingga 15 bom nuklir dalam hitungan hari. Di tengah situasi itu, otoritas senior Iran dilaporkan menggelar pertemuan keamanan tingkat tinggi, yang menambah ketegangan di berbagai kota besar di negara tersebut.

Di luar aspek keamanan, pasar menyoroti posisi Iran sebagai salah satu pemain penting dalam energi global. Meski sektor industrinya bertahun-tahun berada di bawah tekanan sanksi Amerika Serikat, Iran tetap memiliki cadangan minyak terbesar keempat dan cadangan gas alam terbesar kedua di dunia. Infrastruktur industri minyak Iran juga dinilai masih lebih baik dibandingkan negara lain yang sama-sama terkena sanksi berkepanjangan, seperti Venezuela.

Data Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencatat produksi minyak mentah Iran berada di kisaran 3,1 juta barel per hari. Angka ini menurun dibandingkan era 1974 ketika Iran disebut mampu memproduksi enam juta barel per hari dan berada di posisi ketiga dunia, namun volume saat ini tetap tergolong besar.

Salah satu faktor yang membuat minyak Iran kompetitif adalah biaya ekstraksi yang relatif rendah, sekitar US$ 10 per barel. Sebagai perbandingan, produsen utama di negara-negara Barat seperti Amerika Serikat dan Kanada umumnya menghadapi biaya produksi lebih tinggi, berkisar US$ 40 hingga US$ 60 per barel. Struktur biaya ini membuat Iran berpotensi meraih keuntungan lebih besar ketika harga minyak global meningkat.

Risiko terbesar bagi pasar minyak saat ini adalah kemungkinan pemblokiran Selat Hormuz oleh Iran. Selat ini merupakan jalur utama pengiriman minyak dari negara-negara produsen di Timur Tengah ke pasar internasional. Data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 20 juta barel minyak mentah melewati Selat Hormuz setiap hari pada 2024, atau hampir 20% dari total konsumsi minyak cair global.

Selat Hormuz juga dinilai rentan secara geografis karena lebarnya sekitar 50 kilometer dan kedalaman maksimal tidak melebihi 60 meter. Para analis risiko global memperingatkan bahwa spekulasi mengenai keamanan transit saja dapat mendorong perusahaan asuransi menaikkan premi angkutan laut secara signifikan, yang pada akhirnya menambah tekanan pada harga minyak global.

Alternatif jalur distribusi pun terbatas. Catatan EIA menyebut hanya Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang memiliki infrastruktur pipa alternatif memadai, tetapi kapasitas operasional maksimalnya hanya sekitar 2,6 juta barel per hari.

Dampak eskalasi juga berpotensi dirasakan negara-negara di sekitar Iran. Keberadaan pangkalan militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk menempatkan kawasan dalam posisi rentan terhadap ketidakstabilan. Infrastruktur sipil yang berisiko mencakup pusat-pusat hidrokarbon, pembangkit listrik, hingga fasilitas desalinasi air laut.

Di sisi lain, tekanan sanksi lanjutan dari Washington disebut terus mempersempit opsi ekspor Iran. Saat ini, Iran mengekspor sekitar 1,3 hingga 1,5 juta barel per hari, dengan lebih dari 80% volume tersebut diserap oleh kilang-kilang independen di China.

Jika konflik berlanjut dan memicu disrupsi pasokan hingga mendorong harga minyak mentah menembus US$ 100 per barel untuk pertama kalinya sejak awal 2022, perekonomian global berisiko menghadapi gelombang inflasi baru. Kenaikan harga energi berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral di berbagai negara maju.