Kawasan Timur Tengah dilaporkan mengalami eskalasi konflik militer berskala besar sejak akhir Februari 2026, melibatkan Iran di satu sisi dan koalisi Amerika Serikat (AS)–Israel di sisi lain. Konflik ini dinilai menandai pergeseran dari pola perang proksi menuju konfrontasi langsung antarnegara, dengan konsekuensi yang berpotensi meluas ke stabilitas regional dan global.
Dalam tulisan analisisnya, Dr. KRMT Roy Suryo menyebut operasi militer awal Israel terhadap Iran dilaporkan dimulai pada 28 Februari 2026 dalam operasi yang disebut Operation Lion’s Roar. Serangan itu diklaim menargetkan fasilitas militer serta infrastruktur strategis Iran di sekitar Teheran dan kota-kota lain.
Ia juga menyinggung puncak eskalasi berupa gugurnya pemimpin spiritual Iran, Ali Khameini, yang disebut terjadi melalui penggunaan teknologi “ultra-canggih” sebagaimana dibahas dalam tulisan sebelumnya. Peristiwa tersebut memicu respons balasan Iran, termasuk peluncuran rudal balistik, drone, serta operasi regional yang menyasar target Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Menurut uraian kronologi yang disampaikan, serangan balasan Iran dilakukan melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dengan gelombang rudal balistik dan drone ke arah Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk. Sejumlah kota di Israel, termasuk wilayah metropolitan Tel Aviv, dilaporkan mengalami kerusakan. Konflik juga disebut meluas ke negara-negara Teluk yang memiliki fasilitas militer AS.
Dari sisi teknologi persenjataan, tulisan tersebut menyoroti penggunaan rudal hipersonik Iran, termasuk seri Fattah yang disebut sebagai hypersonic glide vehicle (HGV). Rudal jenis ini digambarkan dapat melaju pada kecepatan sangat tinggi dan bermanuver di atmosfer atas, sehingga dinilai menyulitkan sistem pertahanan udara konvensional untuk melakukan pencegatan.
Analisis itu juga menempatkan sistem pertahanan rudal Israel—yang selama ini dibangun berlapis melalui Iron Dome, David’s Sling, serta Arrow-2/Arrow-3—sebagai salah satu yang paling maju. Namun, konflik 2026 disebut menunjukkan tantangan besar ketika serangan dilakukan secara masif (saturation attack) dengan kombinasi drone berbiaya rendah dan rudal berkecepatan tinggi. Fenomena ini dijelaskan melalui konsep “cost-exchange imbalance”, yakni ketika biaya senjata penyerang jauh lebih murah dibandingkan interceptor pertahanan.
Selain itu, strategi perang drone juga menjadi sorotan. Iran dan sekutunya disebut mengembangkan pendekatan perang asimetris berbasis drone, termasuk penggunaan drone kamikaze seri Shahed yang dinilai dapat berfungsi sebagai umpan untuk menguras kapasitas interceptor, sebelum serangan presisi dilakukan dengan biaya lebih murah. Pendekatan ini diposisikan sebagai bagian dari doktrin perang asimetris untuk mengimbangi superioritas teknologi negara Barat.
Dampak regional disebut semakin nyata ketika Iran mengklaim menyerang sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Teluk, termasuk fasilitas di Kuwait dan negara lain yang menjadi lokasi penempatan pasukan AS. Hal ini dipandang menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada Israel dan Iran, melainkan telah menyentuh arsitektur keamanan AS di Timur Tengah.
Salah satu risiko terbesar yang ditekankan adalah krisis di Selat Hormuz, jalur laut yang disebut dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Setelah eskalasi meningkat, Iran disebut memperingatkan kapal-kapal komersial agar tidak melewati selat tersebut. Dampaknya, lalu lintas kapal tanker dilaporkan menurun drastis dan berpotensi mengganggu rantai pasokan energi global, yang pada gilirannya dapat memicu lonjakan harga minyak serta meningkatkan biaya logistik maritim.
Dalam konteks ekonomi global, gangguan di Selat Hormuz dipaparkan berpotensi memengaruhi sirkulasi energi dari Teluk ke pasar Asia dan Eropa, termasuk risiko kenaikan harga minyak dan inflasi energi, serta gangguan perdagangan LNG dari Qatar. Karena itu, konflik dinilai tidak lagi bersifat regional semata, tetapi dapat memunculkan konsekuensi ekonomi global.
Roy Suryo juga menyinggung pernyataan Bahlil Lahadalia mengenai cadangan BBM nasional yang disebut tinggal 20 hari, serta bocornya instruksi “Siaga 1” dari Panglima TNI secara nasional. Ia menilai hal tersebut menggambarkan situasi beberapa hari terakhir, meski pada saat yang sama kondisi di Timur Tengah disebut sedang melandai atau setidaknya tidak meningkat.
Dari sisi geopolitik, tulisan tersebut menilai terjadi pergeseran balance of power yang ditandai beberapa tren, antara lain menguatnya multipolaritas militer global, berkembangnya perang asimetris yang memanfaatkan drone murah dan rudal presisi untuk menantang sistem pertahanan mahal, serta kerentanan infrastruktur militer statis seperti pangkalan udara dan fasilitas militer dalam perang modern. Selain itu, Iran disebut mengadopsi strategi A2/AD (Anti-Access/Area Denial) di kawasan Teluk melalui kombinasi rudal balistik, drone, ranjau laut, dan kapal cepat.
Analisis itu juga menyoroti dampak terhadap negara-negara yang tidak terlibat langsung, termasuk Indonesia. Potensi dampak yang disebut antara lain kenaikan harga energi, gangguan rantai pasokan global, dan ketidakstabilan pasar keuangan. Dalam konteks ini, posisi Indonesia yang ingin menjadi “mediator” dinilai dapat menjadi sulit apabila keliru membaca situasi dan menentukan sikap, terlebih dengan adanya tarikan kepentingan dari berbagai blok.
Kesimpulan yang disampaikan menyatakan konflik AS–Israel dan Iran memperlihatkan transformasi karakter perang modern, yang semakin didominasi teknologi presisi tinggi seperti drone dan rudal hipersonik, sementara sistem pertahanan udara konvensional menghadapi tantangan serius dari senjata generasi baru. Konflik regional juga dinilai dapat cepat berubah menjadi krisis global melalui gangguan energi dan perdagangan internasional, di tengah perubahan keseimbangan kekuatan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas global dalam jangka panjang.

