Kekuatan angkatan laut terbesar di Eropa menilai belum ada langkah yang jelas untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi pelayaran komersial selama perang yang melibatkan Iran belum mereda. Penilaian ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap keamanan jalur pelayaran strategis tersebut.
Negara-negara Eropa juga masih menolak seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengerahkan kapal perang ke Selat Hormuz. Kekhawatiran utama mereka adalah risiko serangan balasan dari Iran. Meski demikian, para pejabat Eropa disebut tengah mendiskusikan rencana pengawalan bagi kapal tanker minyak dan kapal lainnya.
Namun, pembahasan itu belum mengarah pada keputusan pengiriman aset angkatan laut dalam waktu dekat. Sejumlah pejabat Eropa cenderung menunggu hingga konflik mereda, sekaligus memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai rencana Amerika Serikat serta skala ancaman dari Iran.
Menteri Pertahanan Inggris Al Carns mengatakan diskusi terkait dukungan militer yang dapat dikirim ke kawasan tersebut masih berada dalam “tahap yang sangat awal.” Menurutnya, para sekutu saat ini fokus pada upaya mengonsepkan persoalan secara menyeluruh dan memastikan ada jalur yang jelas menuju tahap berikutnya.
Carns juga memperingatkan bahwa di tengah konflik yang berlangsung, pengawalan saja tidak cukup untuk melindungi kapal. Ia menilai situasi tersebut membutuhkan kemampuan multinasional yang “sangat kompleks,” mencakup kekuatan udara, maritim, dan serangan darat. Pernyataan itu disampaikan sekitar sepekan setelah Menteri Pertahanan Inggris John Healey mengisyaratkan kemungkinan Iran memasang ranjau di selat tersebut.

