BERITA TERKINI
Emas Dunia Melonjak Tembus US$4.600 per Ons di Tengah Gejolak Pasar dan Isu Selat Hormuz

Emas Dunia Melonjak Tembus US$4.600 per Ons di Tengah Gejolak Pasar dan Isu Selat Hormuz

Pasar keuangan global kembali bergejolak pada 31 Maret setelah muncul sinyal-sinyal baru dari Gedung Putih yang mengubah ekspektasi investor terkait perkembangan di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz.

Dalam sesi perdagangan AS pada malam 31 Maret (waktu Vietnam), harga emas dunia melonjak hampir US$100 dan menembus level US$4.600 per ons. Kenaikan ini terjadi setelah emas sempat mengalami koreksi yang dalam. Namun, setelah menguat, harga emas dilaporkan sempat mendingin pada sore hari 31 Maret di Asia.

Di saat yang sama, harga minyak melanjutkan kenaikan di tengah kekhawatiran pasokan yang belum terselesaikan. Minyak mentah WTI naik lebih dari 1,5% menjadi US$104,4 per barel, sementara Brent menguat sekitar 2,4% ke US$115,5 per barel.

Dolar AS juga menguat. Indeks DXY—yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama—kembali berada di atas 100 poin. Pasar obligasi AS turut mencatat arus masuk yang kuat, mendorong harga obligasi naik dan imbal hasil turun.

Pergerakan lintas aset ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan sikap yang lebih lunak terkait kampanye militer melawan Iran. Ia mengindikasikan AS dapat mengakhiri kampanye tersebut tanpa harus sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz, berbeda dari sikap keras sebelumnya. Sementara itu, Iran disebut telah mengirimkan sekitar 20 kapal melalui wilayah tersebut.

Sinyal tersebut dinilai membantu meredakan sebagian kekhawatiran investor mengenai risiko konflik antara AS, Israel, dan Iran yang berpotensi meningkat di luar kendali. Kondisi itu turut mendukung pemulihan harga emas setelah koreksi tajam.

Meski demikian, harga minyak tetap menunjukkan tren naik karena Selat Hormuz—jalur pelayaran bagi sekitar 20% pasokan minyak global—belum sepenuhnya dibuka kembali. Situasi itu menandakan risiko gangguan pasokan masih membayangi.

Dari sisi sentimen, pasar disebut bereaksi lebih positif terhadap skenario kampanye militer AS yang mungkin segera berakhir dibandingkan berlarut-larut tanpa batas waktu. Namun, ketidakpastian di Timur Tengah dipandang tidak serta-merta hilang, sehingga ekonomi utama di Asia, Timur Tengah, dan Eropa—terutama yang bergantung pada impor energi—masih berpotensi menghadapi tekanan dari gangguan pasokan dan tingginya harga minyak.

Faktor bank sentral juga menjadi perhatian. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak bank sentral meningkatkan pembelian emas untuk diversifikasi cadangan. Namun, dalam konteks ketidakpastian ekonomi global, tidak tertutup kemungkinan mereka menghentikan pembelian atau bahkan menjual emas untuk menyeimbangkan keuangan.

Sebaliknya, pasar minyak berisiko menghadapi periode bullish yang lebih panjang jika Selat Hormuz terus menjadi titik hambatan. Bahkan bila AS mengurangi keterlibatan militernya, belum pulihnya jalur pelayaran dinilai cukup untuk menjaga harga minyak tetap tinggi.

Ketua Federal Reserve Jerome Powell pada 30 Maret menyatakan tidak perlu menaikkan suku bunga untuk merespons guncangan harga minyak karena ekspektasi inflasi dinilai tetap terkendali. Pernyataan itu mengingatkan pada periode 2011–2014 ketika harga minyak tinggi, tetapi ekonomi AS dinilai relatif kurang terpengaruh seiring booming minyak dan gas, terutama minyak serpih. Pada saat yang sama, Iran disebut menghadapi beragam kesulitan internal.

Sejumlah skenario lain juga menjadi sorotan. Jika negosiasi AS-Iran gagal, AS disebut masih dapat mengakhiri kampanye tanpa membuka kembali Selat Hormuz, dengan tanggung jawab keamanan maritim berpotensi beralih ke Eropa dan negara-negara Teluk. Di sisi lain, Iran dapat menempuh opsi yang lebih “lunak” dengan mengenakan biaya bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz. Menurut media Iran, biaya tersebut sekitar US$2 juta per kapal, setara kira-kira US$1 per barel minyak. Jika diterima, langkah itu dapat memulihkan sebagian pasokan dan membantu menurunkan harga minyak.

Meski begitu, risiko terbesar dinilai tetap berasal dari faktor geopolitik, khususnya reaksi Israel dan negara-negara Teluk. Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga energi dan memperlambat pertumbuhan global. Gangguan di Selat Hormuz disebut dapat mengurangi pasokan minyak hingga 20 juta barel per hari, yang berpotensi menimbulkan dampak berat bagi perekonomian pengimpor di Asia dan Eropa.

Harga minyak dunia juga dilaporkan sudah melonjak sejak awal pekan sebelumnya, seiring kekhawatiran baru mengenai gangguan pasokan setelah pernyataan terbaru dari Presiden AS Donald Trump.