Jakarta — Harga emas dunia diperkirakan masih berpotensi menguat pada pekan depan seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tingginya permintaan terhadap aset safe haven. Memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah, ditambah dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat, disebut menjadi faktor utama yang memicu volatilitas pergerakan logam mulia.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures, emas masih berada dalam tren bullish meski sempat mengalami koreksi setelah reli tajam. Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menyampaikan, secara teknikal pada timeframe H4, harga emas sebelumnya sempat melonjak hingga mendekati level USD5.400 per troy ounce.
Menurut Andy, kenaikan tersebut dipicu oleh meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang mendorong investor global beralih ke aset lindung nilai seperti emas. Ia menambahkan, ketegangan geopolitik secara historis kerap memicu peningkatan permintaan emas karena dianggap relatif aman saat pasar keuangan berada dalam kondisi tidak stabil.
Namun setelah mencatat lonjakan tajam, harga emas sempat memasuki fase koreksi atau pullback sekitar lima persen. Koreksi ini terutama dipengaruhi penguatan dolar Amerika Serikat serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Ketika dolar menguat dan imbal hasil obligasi naik, daya tarik emas biasanya menurun karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti instrumen berbunga. Situasi tersebut mendorong sebagian investor melakukan aksi ambil untung setelah reli harga yang cukup signifikan.
Meski demikian, Andy menilai dari sisi fundamental permintaan emas masih ditopang sentimen risk-off di pasar global. Lonjakan harga energi akibat konflik geopolitik turut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi inflasi global. Dalam kondisi seperti itu, emas kerap dipandang sebagai instrumen lindung nilai terhadap inflasi sehingga minat investor cenderung meningkat. Ketidakpastian ekonomi global juga membuat sebagian pelaku pasar mengalihkan portofolio ke aset yang dinilai lebih stabil.
Selain faktor geopolitik dan inflasi, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve disebut menjadi faktor kunci yang menentukan pergerakan harga emas. Jika ekspektasi pasar mengarah pada suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama, kenaikan emas berpotensi tertahan karena investor cenderung memilih aset berimbal hasil lebih menarik. Sebaliknya, bila pasar mulai memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter, emas dinilai berpeluang kembali memperoleh dorongan kenaikan yang lebih kuat.
Dari sisi teknikal, Andy menilai tren bullish emas masih cukup solid selama harga mampu bertahan di atas area support penting. Dupoin Futures memproyeksikan, apabila tekanan beli berlanjut, pasangan XAU/USD berpotensi melanjutkan penguatan untuk menguji area resistance di sekitar USD5.400 pada pekan depan. Level tersebut dinilai krusial untuk menentukan apakah tren kenaikan berlanjut atau memasuki fase konsolidasi yang lebih panjang.
Namun pelaku pasar juga diminta mencermati skenario alternatif jika terjadi perubahan sentimen secara signifikan. Apabila harga emas berbalik arah dan menembus key point di level USD4.630, tekanan jual berpotensi meningkat dan mendorong harga turun lebih dalam. Dalam skenario tersebut, emas diperkirakan dapat melemah menuju area support berikutnya di sekitar USD4.415 pada pekan depan.
Dengan berbagai faktor fundamental dan teknikal yang masih memengaruhi pasar, investor disarankan memantau perkembangan geopolitik global, arah kebijakan Federal Reserve, serta pergerakan dolar AS. Kombinasi faktor-faktor itu diperkirakan menjadi penentu utama arah harga emas dalam jangka pendek hingga memasuki perdagangan pekan depan.

