BERITA TERKINI
Ekspansi Kekuatan Laut China Bikin AS Waspada, dari Kapal Induk Type 004 hingga Armada Kapal Selam

Ekspansi Kekuatan Laut China Bikin AS Waspada, dari Kapal Induk Type 004 hingga Armada Kapal Selam

China kian agresif membangun kekuatan militernya di laut, sebuah langkah yang mulai memicu kecemasan Amerika Serikat (AS). Perhatian global kini tertuju pada rencana Beijing menghadirkan kapal induk generasi baru yang sementara dikenal sebagai Type 004, di tengah persaingan pengaruh dan kemampuan tempur di samudra.

Type 004 disebut-sebut sebagai supercarrier bertenaga nuklir. Kapal induk ini belum memiliki jadwal resmi operasi maupun uji pelayaran (sea trials) yang diumumkan kepada publik. Hingga kini, Type 004 masih berada pada tahap konstruksi awal di galangan Dalian sejak 2024.

Jika kelak beroperasi, Type 004 akan menempatkan China dalam kelompok terbatas negara yang mengoperasikan kapal induk bertenaga nuklir—yang saat ini hanya diisi oleh AS dan Prancis. Kapal induk nuklir memiliki jangkauan yang nyaris tak terbatas, dengan batas utama pada kebutuhan keberlangsungan hidup awak kapal.

Di luar rencana Type 004, Angkatan Laut China atau People’s Liberation Army Navy (PLAN) tercatat memiliki jumlah kapal lebih banyak dibanding angkatan laut negara lain. Pembangunan kapal induk China juga berlangsung semakin cepat, sejalan dengan tujuan memperkuat kemampuan proyeksi kekuatan Beijing di kawasan sekitarnya.

Saat ini, China memiliki tiga kapal induk utama. Liaoning merupakan kapal induk pertama yang berasal dari konversi kapal eks-Soviet dan pada awalnya berperan sebagai sarana pelatihan. Shandong menjadi kapal induk pertama yang sepenuhnya dibangun di dalam negeri. Sementara Fujian disebut sebagai yang paling modern karena dilengkapi sistem katapel elektromagnetik untuk peluncuran pesawat.

PLAN mulai mengoperasikan kapal induk pada 1990-an setelah membeli Varyag, kapal induk eks-Soviet yang belum selesai dan dijual setelah berakhirnya Perang Dingin serta pemangkasan belanja pertahanan. Kapal tersebut kemudian menjalani renovasi besar-besaran dan mulai beroperasi pada 2012 dengan nama Liaoning. Meski menjadi kapal induk modern pertama PLAN, perannya lebih banyak untuk mempelajari desain dan operasi kapal induk ketimbang menjadi kapal tempur utama.

Setelah Liaoning, PLAN membangun Shandong yang mulai beroperasi pada 2019. Walau tampak mirip dengan pendahulunya, Shandong disebut memiliki sejumlah peningkatan desain. Berikutnya, kapal induk ketiga China, Fujian, menjalani uji laut setelah mulai beroperasi pada 2022. Fujian membawa teknologi sistem peluncuran katapel elektromagnetik, yang memungkinkan peluncuran pesawat lebih berat dengan laju lebih tinggi serta meningkatkan efisiensi operasi kapal induk.

Namun, ambisi China di sektor kapal induk tidak berhenti pada Fujian. Type 004 diproyeksikan menjadi lompatan baru karena dirancang sebagai kapal induk bertenaga nuklir, berbeda dari generasi sebelumnya.

Selain di permukaan laut, kekhawatiran AS juga muncul di bawah permukaan. Laut disebut sebagai satu-satunya medan terakhir di mana AS masih memiliki keunggulan militer yang jelas atas China. Dalam peperangan modern yang semakin transparan oleh sensor, kemampuan beroperasi di bawah air dinilai penting karena menjadi salah satu ruang terakhir untuk bersembunyi.

Awak kapal selam AS sebelumnya meremehkan kapal selam China yang dinilai terlalu berisik. Namun, penilaian itu berubah menjadi kekhawatiran seiring modernisasi armada bawah laut Beijing. Di bawah kepemimpinan Xi Jinping, China membangun angkatan laut terbesar di dunia, mengembangkan arsenal nuklir yang tumbuh cepat, dan memperkuat armada kapal selamnya.

Saat ini, armada kapal selam China masih didominasi kapal bertenaga konvensional yang terbatas dari sisi kecepatan dan daya jelajah. Namun, dalam satu dekade ke depan, intelijen AS memperkirakan kapal selam nuklir generasi baru akan mendominasi dan menantang supremasi AS di Pasifik, Samudra Hindia, bahkan mungkin Atlantik.

Sumber militer AS menyebut China mengembangkan kapal selam yang lebih senyap dengan bantuan teknologi Rusia. Wakil Laksamana Richard Seif menggambarkan kapal-kapal baru China sebagai sangat tangguh dan berpotensi menantang dominasi bawah laut AS.

Kepala intelijen angkatan laut AS, Laksamana Muda Michael Brookes, memperkirakan China akan memiliki 70 kapal selam pada tahun depan dan meningkat menjadi 80 pada 2035, termasuk sekitar 40 kapal selam nuklir. Sebagai pembanding, AS memiliki 67 kapal selam nuklir.

Untuk mempertahankan keunggulan, AS membentuk kemitraan AUKUS bersama Australia dan Inggris guna mentransfer teknologi kapal selam nuklir. Namun, kapal-kapal baru dalam program ini diperkirakan belum siap hingga 2040-an. Dalam jangka lebih dekat, AS berencana menjual 3–5 kapal selam kelas Virginia kepada Australia pada 2030-an. AS juga bekerja sama dengan Korea Selatan dalam pembangunan kapal selam pemburu, sementara Jepang disebut menunjukkan minat.

Di sisi lain, kapasitas industri menjadi kendala besar bagi AS. Produksi kapal selam kelas Virginia disebut baru mencapai sekitar 1,1–1,2 unit per tahun, jauh di bawah kebutuhan 2,33 unit per tahun. Armada kapal selam AS juga menyusut dari sekitar 70 menjadi 67 dan berpotensi turun lagi sebelum kembali meningkat di pertengahan abad ini. Selain itu, sekitar sepertiga kapal selam tidak aktif karena perawatan yang memakan waktu lama, dan beberapa bahkan dinonaktifkan. Britania Raya juga menghadapi masalah serupa yang berpotensi memengaruhi proyek AUKUS.

China diperkirakan mampu memproduksi dua kapal selam serang dan satu kapal selam nuklir balistik per tahun sejak 2024 berkat fasilitas baru. Kapal selam nuklir dikenal mahal karena membutuhkan baja khusus, pengelasan presisi, serta sistem stabilitas yang kompleks. Keunggulannya adalah mampu beroperasi puluhan tahun tanpa pengisian ulang bahan bakar.

Dalam peperangan bawah laut, suara menjadi faktor kunci karena air laut cepat menyerap cahaya dan gelombang radio, sehingga kapal selam sulit dideteksi sekaligus sulit berkomunikasi. Kapal selam modern dirancang semakin senyap, antara lain dengan memasang mesin pada “rakit” peredam suara, melapisi lambung dengan karet, serta menerapkan disiplin ketat di dalam kapal agar tidak ada benda longgar yang menimbulkan suara.

China juga memiliki kekhawatiran tersendiri. Beijing disebut cemas skenario seperti Perang Dunia II terulang, ketika kapal selam AS menenggelamkan lebih dari 55% kapal Jepang. Salah satu titik sensitif bagi China adalah jalur energi: sekitar 80% impor minyak China melewati Selat Malaka.

Untuk menghadapi ancaman itu, China mengembangkan sistem “Tembok Besar bawah laut”, yakni jaringan sensor dan satelit untuk mendeteksi kapal selam AS, serta membangun konsep “bastion” guna melindungi kapal selam nuklirnya. Meski demikian, AS menilai keunggulan sensor dan kemampuan siluman masih berada di pihaknya.

Namun keunggulan tersebut juga dibatasi oleh faktor logistik. Kapal selam AS memiliki amunisi terbatas dan sulit diisi ulang, serta hanya sedikit pelabuhan yang dapat dimanfaatkan di Pasifik, seperti Guam, Pearl Harbor, dan Perth. Karena itu, drone bawah laut mulai dikembangkan sebagai salah satu opsi.

Perusahaan seperti Anduril mengembangkan kendaraan bawah laut tanpa awak, termasuk Ghost Shark untuk Australia dan AS. China juga mengembangkan drone lautnya sendiri. Meski begitu, komunikasi bawah laut masih menjadi tantangan, sehingga penggunaan sistem tanpa awak sepenuhnya tetap terbatas dari sisi teknis dan etis.

Menurut Laksamana Cavanaugh, masa depan peperangan laut akan mengarah pada kombinasi manusia dan mesin. Drone dapat digunakan untuk memasuki area berisiko tinggi, tetapi kapal selam berawak dinilai belum akan hilang dalam waktu dekat.