BERITA TERKINI
Ekonomi Tumbuh 5,01 Persen pada Triwulan I-2022, Inflasi dan Pengangguran Masih Jadi Tantangan

Ekonomi Tumbuh 5,01 Persen pada Triwulan I-2022, Inflasi dan Pengangguran Masih Jadi Tantangan

Ekonomi Indonesia pada triwulan I-2022 tumbuh 5,01 persen secara tahunan. Namun, bila dibandingkan dengan triwulan IV-2021, perekonomian masih terkontraksi 0,96 persen. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, konsumsi rumah tangga, investasi, dan ekspor menjadi motor utama pertumbuhan pada awal 2022.

BPS melaporkan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,43 persen, investasi 4,09 persen, dan ekspor meningkat 16,22 persen. Meski demikian, BPS mengingatkan tren pemulihan ini masih dibayangi inflasi yang diperkirakan tetap tinggi serta tingkat pengangguran yang belum kembali seperti sebelum pandemi.

Motor pertumbuhan: konsumsi, investasi, dan ekspor

Kepala BPS Margo Yuwono menyampaikan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan investasi didorong mobilitas masyarakat yang mulai kembali normal seperti sebelum pandemi Covid-19. Kondisi itu terlihat dari pergerakan di sektor ritel, industri pengolahan, serta otomotif dan transportasi.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor dipengaruhi kenaikan harga sejumlah komoditas global. Komoditas yang disebut antara lain minyak mentah, minyak kelapa sawit mentah (CPO), batubara, dan nikel.

“Mesin-mesin pertumbuhan sudah mulai bergerak dan berperan terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I-2022. Kenaikan harga komoditas global juga turut memperkuat pertumbuhan. Ini menunjukkan tren pemulihan ekonomi semakin positif,” kata Margo dalam telekonferensi pers di Jakarta.

Ketidakpastian global dan tekanan inflasi

BPS menilai ketidakpastian ekonomi dunia akibat pandemi Covid-19 dan perang Rusia-Ukraina masih menjadi tantangan ke depan. Kenaikan harga sejumlah komoditas global juga disebut telah berimbas pada inflasi domestik.

Inflasi pada April 2022 tercatat 0,95 persen secara bulanan, tertinggi sejak Januari 2017. Secara tahunan, inflasi mencapai 3,47 persen, berada di kisaran target inflasi pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sebesar 3–4 persen.

Komoditas penyumbang inflasi terbesar pada April 2022 adalah:

  • Minyak goreng dengan andil 0,19 persen
  • Pertamax dengan andil 0,16 persen
  • Avtur yang berpengaruh pada kenaikan harga tiket pesawat dengan andil 0,08 persen

BPS menyebut inflasi tersebut tidak lepas dari dampak kenaikan harga minyak mentah dan CPO global.

Pengangguran turun, belum kembali ke level prapandemi

BPS mencatat geliat ekonomi pada triwulan I-2022 turut menurunkan tingkat pengangguran. Dalam setahun, jumlah penganggur pada Februari 2022 turun 350.000 orang menjadi 8,54 juta orang. Namun, angka itu masih lebih tinggi dibandingkan Februari 2020 sebelum pandemi, yakni 6,93 juta orang.

Margo menjelaskan, pada Februari 2022 terdapat tambahan serapan tenaga kerja sebanyak 4,55 juta orang. Pada saat yang sama, ada penambahan angkatan kerja baru sebanyak 4,2 juta orang, sehingga tidak seluruhnya otomatis terserap.

Di sisi lain, jumlah penduduk usia kerja yang terdampak Covid-19 turun dari 19,10 juta orang pada Februari 2021 menjadi 11,53 juta orang pada Februari 2022. Dari jumlah itu, BPS mencatat:

  • Masih menganggur: 960.000 orang
  • Bukan angkatan kerja: 550.000 orang
  • Tidak bekerja: 580.000 orang
  • Bekerja dengan pengurangan jam kerja: 9,44 juta orang

“Meski turun, tingkat pengangguran pada Februari 2022 masih belum kembali ke posisi sebelum krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19,” ujar Margo.

Daya beli dan pemerataan pemulihan

Kepala Studi Ekonomi Politik Lembaga Kajian Ekonomi Bisnis (LKEB) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, menilai konsumsi rumah tangga secara tahunan memang tumbuh 4,43 persen pada triwulan I-2022. Namun, bila dibandingkan triwulan IV-2021, pertumbuhannya hanya 0,19 persen.

Menurut Achmad, pertumbuhan konsumsi rumah tangga tersebut masih di bawah ambang normal sebelum Covid-19 yang rata-rata sekitar 5 persen. Ia menilai, selain sektor makanan dan minuman, komponen yang mendorong konsumsi banyak berasal dari sektor tersier seperti hotel, angkutan, dan restoran. Hal ini, menurutnya, menunjukkan peningkatan konsumsi lebih banyak terjadi pada kelompok atas, sementara kelompok menengah ke bawah menghadapi kenaikan harga bahan pokok.

Achmad berharap pemerintah terus mengungkit daya beli masyarakat menengah ke bawah melalui pengendalian inflasi, bantuan sosial, serta penyediaan lapangan kerja formal dan informal.

Pemerintah sebut pertumbuhan stabil dan ditopang aktivitas Ramadhan-Lebaran

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pertumbuhan ekonomi 5,01 persen pada triwulan I-2022 tergolong stabil dan hampir sama dengan triwulan IV-2021 yang sebesar 5,02 persen. Ia juga menyebut pertumbuhan Indonesia berada di atas sejumlah negara lain, seperti China (4,8 persen), Singapura (3,4 persen), dan Korea Selatan (3,07 persen).

Menurut Airlangga, hampir semua sektor tumbuh positif, termasuk industri pengolahan, konstruksi, transportasi dan pergudangan, ekspor dan impor, konsumsi rumah tangga, serta investasi swasta. Ia menambahkan pertumbuhan diperkirakan berlanjut dan ditopang pergerakan ekonomi selama Ramadhan-Lebaran, salah satunya terlihat dari peningkatan indeks belanja masyarakat.

Airlangga menyebut indeks belanja Ramadhan 2022 secara nasional sebesar 179,4, meningkat sekitar 31 persen dibandingkan Ramadhan 2021. Kenaikan indeks belanja itu disebut terjadi di berbagai wilayah dengan rincian:

  • Kalimantan: 199,6
  • Sumatera: 178
  • Jawa: 137
  • Maluku dan Papua: 145,5
  • Bali dan Nusa Tenggara: 72,9

Dari sisi ketenagakerjaan, ia menyebut pada Februari 2022 terdapat penambahan angkatan kerja baru 4,2 juta orang dan serapan tenaga kerja 4,55 juta orang. Airlangga juga menyampaikan realisasi perlindungan masyarakat mencapai Rp 49,27 triliun atau 32 persen, mencakup Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan langsung tunai (BLT) minyak goreng, BLT dana desa, bantuan pedagang kaki lima, warung, dan nelayan, serta Kartu Prakerja.