Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 berada di atas sejumlah negara G20. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada Januari–Maret 2026 tumbuh 5,61% secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibanding kuartal I 2025 yang sebesar 4,87%.
“Pertumbuhan kita yang 5,61 persen ini tumbuh di atas beberapa negara G20,” kata Airlangga dalam konferensi pers di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Selasa (5/5).
Airlangga menyebut, meski India belum merilis angka pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026, capaian Indonesia lebih tinggi dibanding beberapa negara lain, termasuk China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Ia memaparkan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal I 2026 sebesar 5% secara tahunan, Singapura 4,6%, Arab Saudi 2,8%, dan Amerika Serikat 2,7%.
Menurut Airlangga, capaian tersebut tidak lepas dari berbagai kebijakan pemerintah, terutama dalam rangka periode Lebaran. Ia juga menilai pertumbuhan kuartal I 2026 melampaui ekspektasi sejumlah lembaga. “Kuartal pertama dulu saja yang Indonesia berhasil katakanlah meng-outbeat ekspektasi dari berbagai lembaga. Jadi ini satu hal yang positif,” ujarnya.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan laju pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 merupakan yang tertinggi untuk periode kuartal I dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut, secara historis angka 5,61% melampaui capaian kuartal I sejak 2021. Meski terdapat pertumbuhan lebih tinggi pada kuartal lain, seperti kuartal II 2021 sebesar 7,08% dan kuartal III 2022 sebesar 5,73%, capaian tersebut bukan terjadi pada kuartal I.
“Kalau kita lihat kuartal I dari 2021 sampai 2026, belum pernah yang melebihi 5,61 persen,” kata Amalia dalam konferensi pers di kantor BPS.
Dari sisi lapangan usaha, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi didorong sektor-sektor utama, yakni industri pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan. Kelima sektor tersebut berkontribusi sekitar 63,52% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara itu, sektor dengan pertumbuhan tinggi antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14%, jasa lainnya 9,91%, serta transportasi dan pergudangan 8,04%. Amalia menjelaskan pertumbuhan akomodasi dan makan minum didorong peningkatan aktivitas selama libur nasional serta program makan bergizi gratis.
Untuk transportasi dan pergudangan, pertumbuhan ditopang peningkatan mobilitas masyarakat yang tercermin dari naiknya jumlah penumpang di seluruh moda transportasi. “Transportasi dan pergudangan tumbuh ditopang oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang tercermin dari peningkatan jumlah penumpang pada semua moda transportasi,” ujar Amalia.
Dari sisi sumber pertumbuhan, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,03%, diikuti perdagangan 0,82%, pertanian 0,55%, serta konstruksi 0,53%.
Sedangkan dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi 54,36% terhadap PDB dan tumbuh 5,52%. Pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi 28,29% dengan pertumbuhan 5,96%. Kedua komponen tersebut menyumbang sekitar 82,65% terhadap total PDB.
Adapun konsumsi pemerintah tercatat tumbuh 21,81%, didorong peningkatan realisasi belanja, termasuk pembayaran gaji ke-14 serta belanja barang dan jasa. Namun, kontribusi konsumsi pemerintah terhadap ekonomi tercatat 6,72%.