China yang selama puluhan tahun dikenal dengan laju pertumbuhan ekonomi tinggi kini menghadapi tantangan baru yang kian terasa, terutama bagi generasi mudanya. Perlambatan ekonomi memunculkan tekanan sosial-ekonomi yang memengaruhi prospek kerja, daya beli, hingga pola konsumsi di kota-kota besar.
Direktur think-tank Trinco Centre for Strategic Studies (TCSS), A. Jathindra, mengatakan bahwa tekanan ekonomi yang meningkat mulai mengubah dinamika sosial dan ekonomi di China. Ia menilai, selama lebih dari 40 tahun China identik dengan transformasi ekonomi cepat—ditopang pertumbuhan industri, urbanisasi, dan munculnya kelas menengah—namun situasinya kini diiringi ketidakpastian yang membesar bagi generasi muda.
Sorotan juga datang dari ekonom Gao Shanwen yang menyebut kondisi generasi muda China sebagai “lifeless” dalam sebuah forum investor. Ia menggambarkan situasi saat ini dengan pernyataan bahwa China dipenuhi orang tua yang bersemangat, generasi muda yang lesu, dan kelompok usia menengah yang putus asa.
Di sejumlah kota besar seperti Beijing dan Chengdu, generasi muda dilaporkan menghadapi kombinasi tekanan berupa menurunnya daya beli, prospek pekerjaan yang tidak pasti, serta meningkatnya ketergantungan pada kebijakan subsidi pemerintah untuk mendorong konsumsi.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China meluncurkan berbagai program subsidi untuk meningkatkan belanja masyarakat, termasuk insentif penggantian peralatan rumah tangga dan perangkat elektronik. Pada 2026, pemerintah mengalokasikan sekitar 62,5 miliar yuan untuk program tersebut.
Melalui skema itu, konsumen dapat memperoleh potongan harga hingga 15% untuk sejumlah produk seperti televisi, lemari es, dan pendingin udara. Subsidi juga diberikan untuk perangkat digital, termasuk ponsel dan tablet.