Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA) Hendry Cahyono mengapresiasi langkah diplomasi energi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam memperkuat kerja sama Indonesia-Jepang di sektor energi dan mineral kritis. Menurut Hendry, kolaborasi ini dinilai strategis untuk mendorong transisi energi hijau sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan energi nuklir, ekspor gas alam cair (LNG), hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Hendry menilai kesepakatan ini menjadi sinyal positif keseriusan Indonesia dalam mengembangkan energi bersih berbasis teknologi maju.
“Dari sisi teknis dan ekonomi, Indonesia sebenarnya sudah merencanakan pengembangan PLTN sejak era 1960-an. MoU ini menunjukkan adanya kemajuan, meskipun jalan menuju realisasinya masih panjang,” ujar Hendry dalam keterangannya, Selasa (17/3/2026).
Kerja sama itu tertuang dalam Memorandum of Cooperation (MoC) yang ditandatangani Bahlil bersama Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang, Ryosei Akazawa. Hendry menilai kemitraan dengan Jepang membuka peluang bagi Indonesia untuk mempercepat penguasaan teknologi energi baru, termasuk nuklir, yang selama ini terkendala biaya investasi dan transfer teknologi.
Dari sisi sumber daya, Hendry menyebut Indonesia memiliki modal kuat berupa cadangan mineral. Ia menyatakan Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, serta cadangan bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang yang melimpah. Menurutnya, kondisi ini dapat menjadi kekuatan untuk mendorong hilirisasi dan pengembangan industri energi hijau.
Selain berdampak pada pasokan energi, Hendry menilai kerja sama ini berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian nasional, mulai dari peningkatan efisiensi produksi hingga penciptaan lapangan kerja. “Diharapkan ada multiplier effect terhadap efisiensi produksi nasional, peningkatan pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja,” katanya.
Di tengah ketidakpastian geopolitik global, Hendry menilai penguatan kerja sama energi merupakan langkah yang tepat. Ia menyebut posisi Indonesia saat ini berada pada peluang yang baik untuk merespons disrupsi geopolitik.
Meski demikian, Hendry mengingatkan pentingnya memastikan implementasi kerja sama berjalan optimal, terutama terkait alih teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar. Ia juga menilai ketertinggalan Indonesia dibanding negara maju dalam pengembangan energi nuklir dapat menjadi keuntungan karena Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara lain, termasuk dari kasus Fukushima, untuk mengadopsi teknologi yang lebih aman.
Sebelumnya, penandatanganan kerja sama dilakukan Bahlil dan Akazawa dalam pertemuan bilateral di sela ajang Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026). Adapun kerja sama di bidang energi nuklir difokuskan pada pengembangan teknologi dengan tetap mengutamakan standar keselamatan tinggi, sehingga Indonesia berpeluang memanfaatkan pengalaman dan teknologi Jepang dalam pengembangan energi rendah karbon.

