BERITA TERKINI
Ekonom UGM Soroti Strategi Bertahan di Tengah Gejolak Global, Menkeu Tegaskan Ekonomi RI Masih Ekspansi

Ekonom UGM Soroti Strategi Bertahan di Tengah Gejolak Global, Menkeu Tegaskan Ekonomi RI Masih Ekspansi

Gejolak ekonomi global yang kian dinamis dinilai menuntut respons cepat dan tepat sasaran dari pemerintah serta sikap masyarakat yang adaptif. Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM) Eddy Junarsin menilai situasi saat ini tidak biasa, sehingga diperlukan sinergi kuat antara kebijakan yang taktis dan langkah penyesuaian dari masyarakat.

Eddy mengatakan, fenomena ekonomi global yang bergejolak memerlukan respons yang sederhana namun tepat sasaran. Dari sisi pemerintah, ia menekankan pentingnya kebijakan yang langsung menyentuh kebutuhan dasar, sekaligus bantuan bagi kelompok masyarakat yang terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Pemerintah perlu memberikan edukasi ekonomi politik kepada masyarakat, sekaligus menyosialisasikan kebijakan untuk melewati masa sulit ini. Kebijakan sebaiknya diarahkan pada aspek survival dan intermediate ranges, seperti ketersediaan pangan, tempat tinggal, energi, dan akses pendidikan,” ujar Eddy, Selasa (31/3/2026).

Ia juga menilai sektor lapangan kerja yang terpangkas perlu segera diintervensi. Menurut Eddy, pemerintah dapat membantu melalui bantuan pengangguran sementara serta penyaluran tenaga kerja ke daerah atau industri yang masih memungkinkan menyerap pegawai.

Di sisi lain, Eddy menegaskan masyarakat tidak boleh pasif menunggu keadaan membaik. Ia mendorong masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap situasi baru dengan lebih dinamis, termasuk mencoba berbagai ide pekerjaan atau usaha baru dan berfokus pada solusi.

“Masyarakat perlu menyadari bahwa ini adalah situasi luar biasa yang membutuhkan persatuan dan kolaborasi. Kita harus dinamis, bukan statis. Cobalah berbagai ide pekerjaan atau usaha baru dan tetap fokus pada solusi. Kurangi perdebatan atau pertikaian personal yang tidak relevan,” kata Eddy.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan perekonomian Indonesia masih berada dalam fase ekspansi dan belum menunjukkan tanda-tanda krisis meski di tengah tekanan global. Ia menilai daya beli masyarakat tetap kuat, salah satunya tercermin dari tingginya aktivitas konsumsi selama periode Lebaran.

“Siapa yang bilang krisis? Baru Lebaran kemarin kan? Di mana-mana macet. Di semua tempat pada belanja. Artinya daya beli ada dan kalau kita lihat, dari indikator-indikator yang ada, kita memang sedang bergerak lebih cepat,” ujar Purbaya, Jumat (27/3/2026).

Purbaya menyebut pemerintah mampu meredam dampak kenaikan harga minyak dunia melalui kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), sehingga tekanan eksternal tidak langsung membebani masyarakat. Ia juga menyampaikan proyeksi ekonomi ke depan masih menunjukkan tren ekspansi hingga beberapa tahun mendatang.

“Jadi kita jauh dari krisis, kita malah ekspansi terus. Kalau bola kristal yang saya bilang, leading economic index kita nggak salah, sampai nanti 2029-2030 kita ekspansi terus,” tutur Purbaya.

Terkait target pertumbuhan ekonomi sekitar 5,7 persen, Purbaya mengatakan angka tersebut didasarkan pada sejumlah data, seperti survei konsumen, PMI, serta penjualan kendaraan yang disebut menunjukkan peningkatan. Ia menambahkan, pemerintah menjaga likuiditas dalam sistem perekonomian, memastikan belanja negara dilakukan tepat waktu, dan terus memperbaiki iklim usaha untuk mendorong aktivitas ekonomi.

Menurutnya, kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang berjalan saat ini menjadi mesin penggerak utama pertumbuhan. Dengan kondisi tersebut, ia meyakini Indonesia tidak berada di jalur menuju resesi maupun krisis.

“Jadi hampir pasti kita tidak menuju resesi apalagi krisis,” kata Purbaya, seraya menegaskan pemerintah memiliki langkah kebijakan untuk menjaga stabilitas serta mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan.