BERITA TERKINI
Ekonom Ann Pettifor Peringatkan Lonjakan Investasi AI Berisiko Ciptakan Gelembung Spekulasi

Ekonom Ann Pettifor Peringatkan Lonjakan Investasi AI Berisiko Ciptakan Gelembung Spekulasi

Ekonom Ann Pettifor, Direktur Policy Research In Macroeconomics (PRIME), memperingatkan bahwa lonjakan investasi pada teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) berpotensi membentuk gelembung spekulasi yang dapat memicu krisis ekonomi global berikutnya.

Pettifor—yang dikenal sebagai salah satu ekonom yang berhasil memprediksi krisis keuangan global 2008—menilai tren investasi AI saat ini memiliki kemiripan dengan gelembung ekonomi sebelumnya, seperti gelembung dot-com pada awal 2000-an dan krisis perumahan 2008.

Ia menggambarkan sistem keuangan global saat ini sebagai “kasino global”, ketika investor besar dan lembaga keuangan menempatkan dana dalam jumlah besar ke perusahaan-perusahaan AI dengan harapan meraih keuntungan cepat dan besar.

Menurutnya, aliran dana yang masuk ke sektor AI saat ini dinilai jauh lebih besar dibandingkan potensi keuntungan nyata yang dapat dihasilkan teknologi tersebut dalam waktu dekat. Kondisi ini, kata Pettifor, membuat investasi AI berisiko menjadi spekulasi yang didorong ekspektasi berlebihan.

Pettifor juga menyoroti pola distribusi risiko dan keuntungan. Ia mengingatkan bahwa keuntungan cenderung dinikmati segelintir investor besar dan perusahaan teknologi, sementara risiko kerugian dapat ditanggung masyarakat luas.

Ia menjelaskan, dana yang mengalir ke sektor AI tidak hanya berasal dari investor besar, tetapi juga dari dana publik seperti dana pensiun yang dikelola melalui sistem keuangan yang kompleks, termasuk perbankan bayangan (shadow banking).

Jika gelembung investasi AI pecah, Pettifor memperingatkan dampaknya bisa meluas ke sektor ekonomi riil. Ia menilai investor besar mungkin tetap terlindungi, tetapi kerugian dapat dirasakan masyarakat luas melalui pelemahan ekonomi, penurunan investasi, hingga potensi krisis likuiditas.

Pettifor menekankan bahwa persoalan utama bukan pada teknologi AI itu sendiri, melainkan pada cara sistem keuangan global membiayai dan menginvestasikan teknologi tersebut. Spekulasi berlebihan tanpa dasar keuntungan yang jelas, menurutnya, berpotensi menciptakan risiko sistemik bagi perekonomian global.

Ia pun mengingatkan publik agar tidak hanya terpukau oleh perkembangan AI, tetapi juga mewaspadai euforia investasi yang menyertainya. Tanpa pengawasan dan regulasi yang tepat, lonjakan investasi AI disebut berpotensi menjadi sumber krisis ekonomi besar berikutnya.